Mesin yang digunakan sebenarnya memiliki kapasitas hingga sekitar 50 kilogram sampah plastik dalam sekali proses. Namun, pengelola biasanya tidak mengisinya hingga kapasitas maksimal.
Dalam satu kali pengolahan, mereka lebih sering memasukkan sekitar 20 hingga 30 kilogram sampah plastik.
Dari sekitar 30 kilogram sampah plastik tersebut, pengelola dapat memperoleh kurang lebih 5 liter bahan bakar setara bensin, sekitar 20 liter setara solar, dan sekitar 5 liter setara minyak tanah.
Prosesnya dilakukan dengan memasukkan sampah plastik yang telah dipilah ke dalam mesin pirolisis. Selanjutnya, mesin dipanaskan menggunakan kayu bakar.
Ketika temperatur meningkat, plastik mengalami proses penguraian melalui pemanasan dalam sistem pirolisis. Hasil penguraian kemudian dikondensasikan sehingga menghasilkan cairan yang selanjutnya dipisahkan sesuai karakteristiknya.
Siswanto menyebutkan, hasil berupa bahan bakar mulai keluar setelah temperatur mesin mencapai sekitar 150 derajat Celsius. Sementara proses pemanasan sebelumnya dimulai dari temperatur yang lebih rendah.
Teknologi tersebut menjadi salah satu cara yang ditempuh warga untuk mengurangi ketergantungan pada metode pembuangan sampah sekaligus memanfaatkan kembali material yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.
Belum untuk Dijual
Meski mampu menghasilkan bahan bakar dari sampah plastik, pengelola TPS 3R Semar Hijau belum menjadikan hasil pirolisis sebagai produk komersial.