Pemanfaatan hasil pirolisis sejauh ini masih difokuskan untuk kebutuhan internal TPS 3R Semar Hijau. Bahan bakar setara solar digunakan untuk mengoperasikan dua unit mesin diesel, termasuk peralatan pemilah sampah dan mesin penggiling kompos.
Sementara bahan bakar setara bensin digunakan untuk mendukung operasional kendaraan roda tiga atau bentor yang digunakan dalam aktivitas pengelolaan sampah.
Dengan demikian, inovasi tersebut memberikan manfaat ganda. Di satu sisi, sampah plastik yang sulit terurai dapat dikurangi. Di sisi lain, hasil pengolahannya dapat dimanfaatkan kembali sebagai sumber energi untuk mendukung aktivitas pengelolaan lingkungan.
Berawal dari Persoalan Sampah Plastik
Siswanto menjelaskan, penggunaan teknologi pirolisis bermula dari banyaknya sampah plastik yang sulit terurai secara alami. Daripada hanya dikumpulkan atau dibuang, pengelola TPS 3R mencoba mencari metode agar sampah tersebut memiliki nilai guna.
“Keberadaan mesin pirolisis berawal dari banyaknya sampah yang sulit terurai. Kemudian kami coba untuk mengolah sampah plastik menjadi bensin dan solar,” jelasnya.
Dalam prosesnya, tidak semua sampah plastik dapat langsung dimasukkan ke mesin. Plastik yang hendak diolah harus dipilah terlebih dahulu dan diupayakan dalam kondisi relatif bersih.
Sampah plastik yang tercampur tanah atau air tidak direkomendasikan untuk diproses karena dapat memengaruhi proses pengolahan.