Melalui buku saya, "28 Gagasan Baru; Kewirausahaan dan UMKM", saya menawarkan visi bahwa naik kelasnya UMKM tidak boleh diukur secara individual semata, melainkan secara ekosistem. Jika satu UMKM maju namun tetangganya gulung tikar, itu bukanlah keberhasilan, melainkan anomali. Gotong royong digital memastikan terjadinya transfer pengetahuan (knowledge sharing) secara otomatis. Pengusaha yang lebih senior membantu yang junior melalui bimbingan teknis berbasis platform, menciptakan sirkuit kemakmuran yang inklusif dan berkelanjutan.
Intervensi Arsitek Kebijakan
Negara, melalui Kementerian UMKM dan Kewirausahaan, harus hadir bukan sekadar sebagai pembagi bantuan, melainkan sebagai Arsitek Ekosistem. Kebijakan pemerintah harus mendorong terciptanya infrastruktur digital publik yang memungkinkan terjadinya kolaborasi lintas sektor. Sensus Ekonomi 2026 mendatang harus mulai memotret indeks kolaborasi digital antar-pelaku usaha sebagai tolok ukur ketahanan ekonomi nasional.
Kita butuh regulasi yang memberikan insentif khusus bagi UMKM yang memilih jalan kolektif. Pembiayaan berbasis zakat dan wakaf produktif dapat dialokasikan untuk membangun "pusat inovasi bersama" yang dikelola secara gotong royong. Dengan demikian, teknologi canggih seperti AI atau Internet of Things (IoT) tidak lagi menjadi barang mewah yang hanya bisa dijangkau oleh korporasi besar, melainkan menjadi alat kerja harian bagi petani dan perajin di pelosok Nusantara.
Menjemput Kemerdekaan Kolektif
Gotong royong digital adalah manifestasi dari kedaulatan ekonomi di abad ke-21. Ia adalah pernyataan bahwa Indonesia menolak tunduk pada logika kapitalisme digital yang individualistik dan eksploitatif. Kita memilih jalan yang lebih mulia: maju bersama, berdaulat bersama, dan sejahtera bersama.
Kemerdekaan ekonomi yang sesungguhnya adalah ketika tidak ada lagi UMKM yang merasa sendirian di tengah rimba pasar global. Saat mesin bertemu nurani, dan teknologi bertemu semangat gotong royong, itulah saat di mana tulang punggung ekonomi kita benar-benar menguat. Mari kita buktikan pada dunia bahwa dengan kekuatan kolektif, UMKM Indonesia bukan hanya siap naik kelas, tetapi siap memimpin arah baru ekonomi dunia yang lebih manusiawi dan penuh berkah.

* Mustofa Faqih, adalah Entrepreneur dan Analis Strategis UMKM, Pengembang Paradigma Kewirausahaan, serta Penulis Buku ‘28 Gagasan Baru; Kewirausahaan dan UMKM’.