Pembacaan Firman Tuhan diambil dari Injil Markus 11:8-11 dan Yohanes 19:16-27. Dalam ibadah itu, Warga Binaan diajak merenungkan makna kerendahan hati, pengorbanan, dan kasih sejati dalam kehidupan sehari-hari.
"Minggu Palma bukan sekadar perayaan seremonial, tetapi momentum untuk membuka hati menyambut kehadiran Tuhan dengan penuh iman dan pertobatan," imbau Pendeta Ny. T.
Souissa.
"Saya mengajak seluruh Warga Binaan untuk menjadikan pekan suci perayaan Paskah sebagai waktu refleksi diri, memperbaiki sikap, dan membangun kehidupan yang lebih baik ke depan," tambahnya. Dukungan terhadap pelaksanaan pembinaan rohani di Lapas Wahai datang dari Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Dwi Ricky Biantoro.
Ia mengapresiasi kegiatan tersebut.
"Kegiatan ini mencerminkan komitmen jajaran Pemasyarakatan dalam memberikan pembinaan yang menyeluruh," ungkap Dwi Ricky Biantoro.
"Pembinaan ini tidak hanya secara fisik, tetapi juga mental dan spiritual. Kami berharap Warga Binaan mengambil nilai-nilai positif dari perayaan Minggu Palma sebagai bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik ke depan," tutup Dwi Ricky Biantoro.
***