"Kami menyadari tantangan utama Banten adalah disparitas wilayah. Karena itu, Pemprov Banten hadir untuk mengintervensi pembangunan, khususnya infrastruktur jalan desa," sambungnya.
Pada bidang transportasi, pihaknya juga mengembangkan layanan Trans Banten sebagai upaya membangun konektivitas transportasi massal berbasis bus. Saat ini, hampir 1.000 masyarakat per hari telah memanfaatkan layanan tersebut.
"Apa yang kita sampaikan saat itu kepada masyarakat, perlahan kita kerjakan melalui program-program yang telah disusun," imbuhnya.
Ia menegaskan permasalahan pembangunan di Provinsi Banten tidak dapat diselesaikan secara instan. Prinsip pembangunan berkelanjutan menuntut perencanaan yang matang, penentuan skala prioritas, serta upaya untuk tetap mengakomodasi kepentingan masyarakat secara luas.
"Apa yang saat ini kita lakukan setidaknya menyelesaikan satu persatu permasalahan, kita membangun pondasi dan memelihara harapan," jelasnya.
Andra Soni juga menyampaikan apresiasi atas inisiatif akademisi Untirta yang menyelenggarakan seminar nasional. Ia berharap forum ilmiah ini dapat memberikan pandangan, pendapat, serta masukan independen bagi Pemprov Banten dalam memperbaiki tata kelola dan pembangunan daerah.
Sementara itu, Rektor Untirta Prof Fatah Sulaiman mengungkapkan bahwa selama satu tahun kepemimpinan Andra Soni–Dimyati, berbagai program dan kebijakan inovatif serta progresif telah dilaksanakan, di antaranya Program Bangun Jalan Desa Sejahtera (Bang Andra).
"Selama satu tahun ini telah bekerja keras untuk mencapai visi dan misi, serta berkolaborasi dalam percepatan pembangunan di Provinsi Banten. Untirta siap berkolaborasi dan memberikan kontribusi terbaik demi kesejahteraan masyarakat," paparnya.