Sarudin menjelaskan bahwa DLH saat ini tengah membangun konsep pengelolaan sampah di desa, baik dengan mesin excavator maupun metode magot.
"Sehingga jika konsep itu sudah jelas, kita bisa menghitung berapa kebutuhan anggarannya, berapa kebutuhan lahannya, dan kebutuhan lain-lainnya," ucapnya.
Ia menyebutkan bahwa dukungan anggaran pengelolaan sampah dapat bersumber dari pemerintah pusat, daerah, maupun dana desa.
Selain itu, beberapa desa seperti di Bojonegara sudah menerapkan pengelolaan sampah menggunakan mesin excavator dengan dukungan CSR perusahaan.
"Tapi di Bojonegara itu ada banyak perusahaan, artinya banyak bantuan CSR dari perusahaan, kita sedang memikirkan bagaimana desa-desa yang tidak punya dukungan dari perusahaan, itu sedang kita coba konsep itu," ungkapnya.
Sarudin berharap wilayah Anyer dapat menjadi wilayah yang berhasil mengembangkan budidaya magot mandiri.
"Kita coba salah satu desa percontohan, di mana rumah-rumah itu kita dorong untuk membudidayakan magot, nanti magot yang sudah siap panen itu kita beli dijadikan sebagai bank sampah magot," jelasnya. ***