Ia menjelaskan bahwa keluarga berisiko adalah mereka yang masih memiliki faktor penyebab stunting, seperti keterbatasan akses air bersih dan perilaku buang air sembarangan.
“Kalau masih tidak ada air bersih atau buang air sembarangan, itu termasuk kategori berisiko,” ujarnya.
Dalam pelaksanaan program, Pemkot Serang tak bekerja sendiri. Pemerintah menggandeng Baznas, dunia usaha, hingga perbankan untuk memperluas jangkauan bantuan.
“Tanggung jawab menurunkan stunting harus dilakukan bersama. Maka dari itu, kami menggandeng Baznas dan sektor swasta untuk ikut berperan,” katanya.
Bantuan yang diberikan pun beragam — mulai dari sembako, beras, telur, hingga uang transport bagi keluarga penerima manfaat.
“Baznas juga memberikan bantuan uang transport untuk meringankan beban keluarga penerima,” tambah Ahmad.
Menariknya, hasil Pendataan Keluarga (PK) 2024 menunjukkan adanya penurunan signifikan jumlah keluarga berisiko stunting, dari 24 ribu menjadi 15 ribu keluarga.
“Penurunannya cukup baik karena adanya peningkatan akses air bersih dan berkurangnya perilaku buang air sembarangan,” ungkap Ahmad.