Senin, 5 Oktober 2026

Makanan Terbuang, Petani Merugi? Ini Peran Teknologi yang Bisa Mengubah Nasib Pascapanen Indonesia

BAGIKAN:
Makanan Terbuang, Petani Merugi? Ini Peran Teknologi yang Bi...
0
Makanan Terbuang, Petani Merugi? Ini Peran Teknologi yang Bisa Mengubah Nasib Pascapanen Indonesia

Pernah nggak kamu menemukan bahan pangan seperti sayur atau buah yang sudah tidak segar lagi, tapi masih dijual di pasar dengan harga murah? Kamu mungkin bertanya-tanya, kenapa barang yang kualitasnya sudah turun masih ada harganya?

Ini sebenarnya adalah salah satu upaya untuk mengurangi sampah makanan (food waste). Para petani biasanya menyortir hasil panen dan menjual yang kualitasnya kurang ke pasar tertentu dengan harga lebih murah.

Sayangnya, cara ini bukan solusi yang berkelanjutan. Nyatanya, tidak banyak orang yang tertarik membeli bahan pangan dengan kualitas rendah.

Alhasil, banyak hasil panen yang dijual murah justru tidak laku dan akhirnya terbuang.

Lalu, apa sih yang menyebabkan bahan pangan cepat rusak setelah panen? Banyak faktornya, mulai dari serangan hama dan penyakit, cuaca ekstrem (seperti kekeringan atau banjir), teknik panen yang kurang tepat, penanganan pascapanen yang salah, hingga penyimpanan yang tidak baik.

Tapi, bagaimana jika kerusakan itu terjadi karena teknologi yang digunakan di sektor pertanian kita belum maksimal? Benar sekali.

Kurangnya pemanfaatan teknologi agroindustri dalam penanganan pascapanen menyebabkan tingginya kerusakan, penurunan kualitas, dan nilai jual produk pertanian yang rendah.

Data Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian menyebutkan, hanya 18% atau sekitar 5,4 juta petani yang sudah memanfaatkan teknologi modern. Padahal, teknologi punya peran yang sangat penting dan serbaguna dalam mengurangi sampah makanan.

Ampas Jadi Emas: Inovasi Daur Ulang Limbah Kopi untuk Pertanian Berkelanjutan
Artikel Selanjutnya

Ampas Jadi Emas: Inovasi Daur Ulang Limbah Kopi untuk Pertanian Berkelanjutan

Penulis: Redaksi
Diterbitkan: 12 Oktober 2025, 19:21 WIB · Diperbarui: 25 Maret 2026, 01:46 WIB

Berikan Opinimu

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE

Terkini

Dari Kerokan ke Algoritma: Ketika Pengobatan Tradisional Bertemu Dunia Digital

Konten dari Pengguna Opini Senin, 28 September 2026 | 14:01 WIB

ILHAM 7S: Kreator Gaming Indonesia dengan Perjalanan Konsisten Membangun Komunitas Digital

Konten dari Pengguna Cerita Kamis, 24 September 2026 | 08:46 WIB

JENI NUR AINI Menuntaskan 10K Pertama di TNI Run 2026

Konten dari Pengguna Cerita Minggu, 20 September 2026 | 12:27 WIB

JIKA NEGERIKU BERSIH DARI KORUPSI

Konten Redaksi Jumat, 4 September 2026 | 20:44 WIB

Literasi bukan hanya soal membaca : Ketika masyarakat kehilangan kemampuan memahami

Konten dari Pengguna Opini Selasa, 1 September 2026 | 13:38 WIB

“Inside Out” Dorong Kemandirian Mitra dalam Pemberdayaan Anak Marginal di Panti Asuhan Miftahul Huda Blitar

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Minggu, 30 Agustus 2026 | 19:06 WIB

Beyond the Beach: Ketika Wisatawan Meracik Cerita dan Suvenirnya Sendiri di Bali

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Kamis, 20 Agustus 2026 | 10:27 WIB

Bibir Sumbing Bisa Terdeteksi Sejak Kehamilan, Ini yang Perlu Diperhatikan

Konten Redaksi Senin, 10 Agustus 2026 | 22:56 WIB

Ancaman Kesehatan di Balik Kebiasaan Tidur Larut Malam yang Sering Diabaikan

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Rabu, 5 Agustus 2026 | 09:11 WIB