Saat ini, ada harapan baru melalui program kolaborasi antara Pemerintah, Pengusaha (Bank Indonesia Perwakilan Banten), NGO, dan masyarakat. Program ini bertujuan untuk memproduksi kopi berkualitas dan mengembangkan Imah Kopi di Gunung Karang sebagai pusat budidaya kopi serta konservasi lingkungan.
Agus menjelaskan filosofi kopi dalam konteks lingkungan: “Kopi merubah air bening menjadi hitam dan nikmat, begitu juga kita bisa merubah lingkungan menjadi lebih produktif dan kreatif.” Penanaman kopi yang terintegrasi dengan tanaman lain dapat membantu menjaga kontur tanah di lereng Gunung Karang, berbeda dengan penanaman sayur yang berisiko menyebabkan longsor.
Selama percakapan, Agus juga menyoroti manfaat kesehatan kopi hitam tanpa gula, yang dapat membantu konsentrasi, memperbaiki suasana hati, dan menurunkan risiko depresi. Ia mengutip penelitian dari halodoc.com mengenai efek positif kafein dan antioksidan dalam kopi hitam.
Agus mengungkapkan bahwa data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan indeks kebahagiaan masyarakat Banten masih rendah dibandingkan provinsi penghasil kopi lainnya seperti Aceh dan Lampung. Ia berharap pengembangan kopi di Banten dapat meningkatkan kebahagiaan masyarakat melalui penciptaan lingkungan yang asri dan kondusif.
“Jika kita lihat di Aceh dan Lampung, mereka menikmati kopi dengan pemandangan yang asri dan lingkungan yang nyaman. Kenapa kita tidak menciptakan itu di sini?” kata Agus menutup percakapan, dengan harapan bahwa kopi Gunung Karang dapat membawa perubahan positif bagi masyarakat dan lingkungan Banten.
Apakah Anda setuju bahwa potensi kopi Gunung Karang harus digali lebih jauh? Akankah Kilometer 0 Kopi Banten ini menjadi titik balik untuk industri perkopian global?
Sebagai bagian dari masyarakat Banten dan pencinta kopi, saatnya kita bersama-sama mendukung inisiatif ini untuk merealisasikan harapan besar bagi kopi Gunung Karang dan masa depannya.
Pewarta: Mardiana
Editor: Herfa