Kamis, 30 Juli 2026
Login Kirim Tulisan
Konten dari Pengguna

Kepedulian terhadap Kesehatan Siswa Menjadi Wujud Pendidikan Berbasis Cinta di MIS Ar-Raudhotun Nur

BAGIKAN:
Kepedulian terhadap Kesehatan Siswa Menjadi Wujud Pendidikan...
0
Kepedulian terhadap Kesehatan Siswa Menjadi Wujud Pendidikan Berbasis Cinta di MIS Ar-Raudhotun Nur
Iklan

Garut, 29 Juli 2026 – Mewujudkan lingkungan belajar yang sehat tidak hanya dilakukan melalui penyediaan sarana dan prasarana yang memadai, tetapi juga dimulai dari perhatian terhadap kebersihan diri setiap peserta didik. Atas dasar itulah, MIS Ar-Raudhotun Nur terus membudayakan kebiasaan memeriksa kebersihan dan kesehatan siswa sebelum kegiatan pembelajaran berlangsung. Salah satu bentuk nyata yang dilakukan adalah pemeriksaan kebersihan kuku peserta didik secara berkala oleh guru kelas. Kegiatan sederhana tersebut menjadi bagian dari upaya membangun karakter hidup bersih dan sehat sekaligus memperkuat implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang diterapkan di lingkungan madrasah.

Guru Kelas VI MIS Ar-Raudhotun Nur, Insan Faisal Ibrahim, S.Pd., Gr., menjelaskan bahwa kesehatan peserta didik merupakan fondasi penting dalam keberhasilan proses pembelajaran. Anak yang memiliki kondisi tubuh sehat dan menjaga kebersihan diri akan lebih nyaman mengikuti kegiatan belajar, memiliki rasa percaya diri yang baik, serta terhindar dari berbagai penyakit yang dapat mengganggu aktivitas di sekolah. Oleh karena itu, guru tidak hanya berkewajiban menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan peserta didik tumbuh dalam lingkungan yang sehat, aman, dan penuh perhatian.

Menurut Insan, memperhatikan kebersihan peserta didik merupakan salah satu bentuk nyata implementasi Kurikulum Berbasis Cinta. Nilai-nilai KBC mengajarkan bahwa pendidikan harus dilandasi rasa kasih sayang, kepedulian, dan penghormatan terhadap setiap anak sebagai individu yang sedang bertumbuh. Bentuk kepedulian tersebut diwujudkan melalui tindakan sederhana, seperti memeriksa kebersihan kuku, kerapihan pakaian, kebersihan rambut, hingga memastikan peserta didik datang ke sekolah dalam kondisi sehat. Baginya, perhatian terhadap hal-hal kecil tersebut bukanlah bentuk mencari kesalahan siswa, melainkan bentuk kasih sayang yang mendidik agar mereka terbiasa menjaga diri sejak usia dini. "Guru bukan hanya bertugas mengajar atau menyampaikan materi pelajaran. Guru juga memiliki tanggung jawab mendidik dengan memberikan perhatian terhadap kebersihan, kerapihan, dan kesehatan peserta didik. Memperlakukan siswa dengan penuh kepedulian merupakan bagian dari profesionalitas seorang guru sekaligus implementasi Kurikulum Berbasis Cinta. Pendidikan bukan hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk kebiasaan hidup yang baik," ungkap Insan Faisal 

Selain itu, Insan menegaskan bahwa praktik-praktik pendidikan yang dahulu menjadi budaya di sekolah sudah saatnya dihidupkan kembali sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik. Menurutnya, pada masa lalu guru tidak hanya fokus membuka pembelajaran dan menyampaikan materi, tetapi juga memberikan perhatian terhadap kondisi peserta didik secara menyeluruh. "Saya melihat banyak praktik baik yang dulu menjadi budaya di sekolah perlu kita hidupkan kembali. Dahulu, guru selalu memulai hari dengan memeriksa kebersihan kuku, rambut, kerapihan seragam, hingga kelengkapan perlengkapan belajar siswa. Kebiasaan sederhana seperti itu sebenarnya memiliki dampak yang besar dalam membentuk kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap kebersihan diri. Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, pendidikan karakter tidak boleh ditinggalkan. Justru sekarang kita harus semakin membiasakan anak-anak untuk hidup bersih, menjaga kesehatan, dan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Saya yakin, peserta didik yang sehat, bersih, dan berkarakter akan lebih siap untuk belajar dan tumbuh menjadi generasi yang cerdas sekaligus memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya," ujar Insan Faisal

Melalui pembiasaan memeriksa kebersihan kuku dan kondisi kesehatan peserta didik, MIS Ar-Raudhotun Nur berharap mampu menanamkan budaya hidup bersih sebagai bagian dari karakter sehari-hari. Kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi agar peserta didik memahami bahwa kebersihan merupakan tanggung jawab pribadi yang berdampak pada kesehatan bersama. Madrasah meyakini bahwa lingkungan belajar yang sehat akan mendukung terciptanya pembelajaran yang nyaman, produktif, dan menyenangkan. Dengan semangat Kurikulum Berbasis Cinta, setiap bentuk perhatian guru kepada peserta didik diharapkan menjadi teladan yang menginspirasi, sehingga pendidikan benar-benar hadir sebagai proses memanusiakan manusia melalui ilmu pengetahuan, keteladanan, dan kepedulian yang diwujudkan dalam tindakan nyata setiap hari.

Iklan
Jendela Literasi Hadirkan Ruang Belajar Kreatif di MIS Ar-Raudhotun Nur
Artikel Selanjutnya

Jendela Literasi Hadirkan Ruang Belajar Kreatif di MIS Ar-Raudhotun Nur

Artikel ini merupakan tanggung jawab kontributor dan tidak mencerminkan pandangan redaksi distrikbantennews.com.
Iklan
Iklan
Kontributor: KABAR AR-RAUDHOTUN NUR
Diterbitkan: 29 Juli 2026, 20:35 WIB · Diperbarui: 29 Juli 2026, 20:48 WIB

Berikan Opinimu

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE

Terkini