Sabtu, 17 Oktober 2026

Mengapa Kita Takut Bicara di Depan Orang Banyak?

BAGIKAN:
Mengapa Kita Takut Bicara di Depan Orang Banyak?
0
Mengapa Kita Takut Bicara di Depan Orang Banyak?
Ilustrasi AI

Perubahan cara pandang ini menurut saya penting. Ketika seseorang berhenti memikirkan, “Apakah saya terlihat pintar?” dan mulai bertanya, “Apakah orang lain memahami apa yang saya sampaikan?”, tekanan untuk tampil sempurna perlahan berkurang.

Pembicara yang baik pun tidak selalu berbicara dengan kalimat-kalimat rumit. Justru, sering kali orang lebih mudah mengingat pembicara yang mampu menjelaskan sesuatu dengan bahasa sederhana. Ia tahu kapan harus serius, kapan memberikan contoh, dan kapan berhenti berbicara.

Karena itu, kemampuan berbicara sebenarnya tidak dapat dipisahkan dari kemampuan mendengarkan. Bagaimana mungkin seseorang menyampaikan pesan dengan baik jika ia tidak memahami siapa yang sedang diajak bicara?

Seorang mahasiswa yang melakukan presentasi, misalnya, tidak cukup hanya menguasai materi. Ia perlu mengetahui apakah teman-temannya memahami istilah yang digunakan. Seorang pemimpin tidak cukup hanya memberikan instruksi. Ia perlu memastikan orang-orang yang dipimpinnya mengerti apa yang harus dilakukan. Begitu juga seorang penjual tidak cukup hanya menjelaskan produknya. Ia perlu memahami kebutuhan calon pembeli.

Dengan kata lain, public speaking bukan tentang berbicara sebanyak-banyaknya. Justru sebaliknya, kemampuan tersebut menuntut seseorang untuk mengetahui apa yang perlu dikatakan dan apa yang sebaiknya tidak dikatakan.

Di era media sosial, persoalan ini menjadi semakin penting. Sekarang hampir semua orang memiliki kesempatan untuk berbicara di ruang publik. Satu unggahan, satu video, atau satu komentar dapat dilihat oleh ribuan bahkan jutaan orang. Batas antara berbicara kepada beberapa orang dan berbicara kepada publik menjadi semakin tipis.

Sayangnya, kesempatan tersebut tidak selalu diikuti dengan tanggung jawab.

Kita sering melihat bagaimana seseorang menyampaikan pendapat secara tergesa-gesa, menggunakan kata-kata yang provokatif, atau menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan berbicara seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa menarik seseorang ketika berbicara, tetapi juga dari seberapa bertanggung jawab pesan yang disampaikannya.

Bukan Cuma Soal Harga: Mengapa Mahasiswa Mulai Meninggalkan Toko Fashion Offline?
Artikel Selanjutnya

Bukan Cuma Soal Harga: Mengapa Mahasiswa Mulai Meninggalkan Toko Fashion Offline?

Kontributor: Ghefira Lia
Diterbitkan: 17 Oktober 2026, 10:23 WIB · Diperbarui: 17 Oktober 2026, 12:32 WIB

Berikan Opinimu

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE

Terkini

JIKA NEGERIKU BERSIH DARI KORUPSI

Konten Redaksi Jumat, 4 September 2026 | 20:44 WIB

Literasi bukan hanya soal membaca : Ketika masyarakat kehilangan kemampuan memahami

Konten dari Pengguna Opini Selasa, 1 September 2026 | 13:38 WIB

“Inside Out” Dorong Kemandirian Mitra dalam Pemberdayaan Anak Marginal di Panti Asuhan Miftahul Huda Blitar

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Minggu, 30 Agustus 2026 | 19:06 WIB

Beyond the Beach: Ketika Wisatawan Meracik Cerita dan Suvenirnya Sendiri di Bali

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Kamis, 20 Agustus 2026 | 10:27 WIB

Bibir Sumbing Bisa Terdeteksi Sejak Kehamilan, Ini yang Perlu Diperhatikan

Konten Redaksi Senin, 10 Agustus 2026 | 22:56 WIB

Ancaman Kesehatan di Balik Kebiasaan Tidur Larut Malam yang Sering Diabaikan

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Rabu, 5 Agustus 2026 | 09:11 WIB

Alzan Subhan: Sosok Beauty Educator di Balik Derma Insight ID

Konten dari Pengguna Opini Kamis, 9 Juli 2026 | 23:58 WIB

Strategi Affiliate Marketing Mengubah Lanskap Penjualan Komponen Lampu Bi-led di Media Sosial

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Jumat, 3 Juli 2026 | 21:13 WIB