Menurut Sonza, piala bukan satu-satunya hal yang penting dari sebuah pertandingan. Keberanian untuk tampil, kedisiplinan menjalani latihan dan pengalaman menghadapi lawan justru menjadi bekal penting bagi Queen untuk tumbuh dan berkembang.
“Kami sebagai orang tua tentu sangat bersyukur dan bangga melihat Queen bisa meraih juara satu. Yang paling penting bagi kami bukan hanya pialanya, tetapi keberanian, kedisiplinan dan pengalaman yang dia dapat dari pertandingan ini. Mudah-mudahan prestasi ini menjadi motivasi bagi Queen untuk terus berlatih dan tidak cepat puas,” kata Sonza.
Ia menuturkan, melihat putrinya berani tampil di arena pertandingan sudah menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga.
“Sebagai orang tua, melihat anak tampil dan berani bertanding saja sudah menjadi kebanggaan. Ketika kemudian Queen berhasil menjadi juara satu, tentu rasa syukur kami semakin besar. Kami akan terus mendukung selama itu menjadi hal positif bagi perkembangan dan prestasinya,” tuturnya.
Kejuaraan Maulana Hasanuddin Championship 3 sendiri diikuti peserta dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas hingga mahasiswa.
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tapak Suci UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten dalam rangka Dies Natalis ke-64 UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten sekaligus memperingati HUT ke-81 TNI.
Kejuaraan ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi ruang pembinaan bagi atlet-atlet pencak silat dari kalangan pelajar dan mahasiswa.
Bagi Queen, gelar juara pertama di Maulana Hasanuddin Championship 3 menjadi salah satu langkah awal dalam perjalanan panjangnya di dunia pencak silat. Dengan dukungan keluarga, sekolah dan tempat latihan, pesilat cilik ini masih memiliki perjalanan panjang untuk terus belajar dan mengukir prestasi.