Untuk mengatasi kendala tersebut, mahasiswa melakukan koordinasi dengan ketua RT dan RW, menyesuaikan waktu kunjungan menjadi sore, malam, atau akhir pekan, serta memberikan pendampingan secara langsung kepada warga lanjut usia dengan melibatkan anggota keluarga apabila diperlukan. Momentum kegiatan masyarakat juga dimanfaatkan sebagai sarana alternatif untuk memperluas jangkauan sosialisasi.Capaian 217 aktivasi dari 332 sosialisasi menunjukkan tingkat konversi sekitar 65 persen.

Selain capaian kelompok, jumlah aktivasi setiap anggota juga relatif merata, yaitu berada pada kisaran 32 hingga 39 akun per mahasiswa. Hal tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan program tidak hanya berorientasi pada jumlah capaian, tetapi juga pada pembagian tugas dan pendampingan warga secara langsung.
Melalui program WASESA, Kelompok 11 KKN-T UNIMUS berupaya mendorong masyarakat agar semakin memahami pentingnya tertib administrasi kependudukan dan mampu memanfaatkan layanan digital secara lebih mandiri. Kegiatan ini juga menunjukkan bahwa kombinasi sosialisasi kelompok dan pendampingan personal dapat digunakan untuk menjangkau masyarakat dengan karakteristik dan tingkat literasi digital yang beragam.
Keberlanjutan edukasi administrasi kependudukan digital menjadi salah satu perhatian setelah kegiatan KKN-T berakhir. Pemerintah kelurahan dan pihak terkait diharapkan dapat terus melakukan sosialisasi dengan melibatkan unsur masyarakat seperti kader PKK, karang taruna, maupun relawan digital tingkat RT sehingga pendampingan, khususnya bagi kelompok lanjut usia, dapat terus berlangsung.