“ Kami ingin anak-anak memiliki pengalaman bahwa belajar Matematika itu bisa menyenangkan. Ketika mereka menemukan cara menyelesaikan sebuah persoalan dan berhasil memahaminya, ada kepuasan tersendiri yang dapat mendorong mereka untuk terus belajar ,” jelas Insan.
Menurut Insan, kelas tambahan juga menjadi salah satu cara untuk memberikan layanan pembelajaran yang lebih beragam kepada peserta didik. Setiap anak memiliki minat, kemampuan, dan kecepatan belajar yang berbeda. Oleh karena itu, madrasah perlu memberikan ruang yang memungkinkan siswa mengembangkan potensinya sesuai dengan ketertarikan masing-masing.
Kelas tambahan tidak dimaksudkan untuk membebani siswa dengan kegiatan akademik tambahan, tetapi menjadi wadah bagi mereka yang memiliki keinginan untuk belajar lebih dalam.
“ Kami tidak ingin kelas tambahan menjadi beban. Prinsipnya adalah memberikan ruang bagi siswa yang ingin berkembang. Kalau mereka datang karena memiliki kemauan sendiri, proses belajarnya akan terasa lebih bermakna,” ungkapnya.

Ke depan, MIS Ar-Raudhotun Nur berencana mengembangkan konsep kelas tambahan tidak hanya pada mata pelajaran Matematika. Mata pelajaran lain juga akan dipertimbangkan untuk mendapatkan ruang pembelajaran tambahan sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa.
Pengembangan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya madrasah dalam memberikan pelayanan pendidikan yang lebih adaptif dan mendorong budaya belajar di kalangan peserta didik.
“ Insyaallah ke depan bukan hanya Matematika. Jika kebutuhan dan minat siswa berkembang, kami juga akan membuka kelas tambahan untuk mata pelajaran lainnya. Harapannya, setiap anak memiliki kesempatan untuk menemukan bidang yang mereka sukai dan mengembangkannya secara bertahap,” tutur Insan.