Pemanfaatan teknologi juga mulai menjadi bagian dari kegiatan tersebut. Penggunaan WhatsApp sebagai media komunikasi dan PowerPoint sebagai pendukung pembelajaran menunjukkan adanya upaya untuk memperkenalkan teknologi sebagai bagian dari proses belajar.
Di sisi lain, permainan tradisional dan eksperimen sains memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi anak-anak. Permainan bakiak, misalnya, tidak hanya menjadi aktivitas bermain, tetapi juga dapat mengenalkan budaya sekaligus membangun kerja sama. Sementara eksperimen seperti hujan warna dan pembuatan gading gajah dari busa memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar melalui praktik dan rasa ingin tahu.
Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa literasi dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk. Anak-anak tidak harus selalu belajar melalui buku, tetapi juga dapat memperoleh pengetahuan melalui permainan, teknologi, praktik, dan interaksi bersama teman.
TBM MaBaR memiliki kegiatan rutin setiap hari Minggu. Selain membaca nyaring, anak-anak mengikuti kegiatan matematika, permainan, eksperimen, dan aktivitas edukatif lainnya. Komunitas ini juga menjalankan program TBM keliling kampung yang dilaksanakan satu kali dalam sebulan di setiap dusun.
Program tersebut menjadi salah satu upaya untuk mendekatkan kegiatan literasi kepada masyarakat. Dengan mendatangi lingkungan warga, kegiatan TBM tidak hanya menunggu anak-anak datang ke tempat baca, tetapi juga berusaha membawa aktivitas literasi lebih dekat kepada mereka.
Dari kegiatan yang dilakukan, terlihat adanya upaya mengembangkan beberapa bentuk literasi sekaligus. Literasi digital dikenalkan melalui penggunaan teknologi, literasi budaya melalui permainan tradisional, sedangkan literasi sains dikembangkan melalui berbagai eksperimen sederhana.
Pendekatan seperti ini cukup relevan dengan kebutuhan anak-anak saat ini. Mereka tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk membaca, tetapi juga perlu dibiasakan berpikir, mencoba, bertanya, berkreasi, dan bekerja sama.
Namun, di balik berbagai kegiatan tersebut, TBM MaBaR masih menghadapi tantangan. Berdasarkan hasil wawancara, keberadaan komunitas ini belum banyak diketahui oleh masyarakat, khususnya anak-anak. Kondisi tersebut menjadi perhatian penting karena keberhasilan sebuah gerakan literasi tidak hanya ditentukan oleh kualitas kegiatan, tetapi juga oleh sejauh mana kegiatan tersebut dapat dikenal dan diakses oleh masyarakat.