Dari berbagai persoalan yang dibahas, mereka melihat kekerasan verbal sebagai salah satu persoalan yang membutuhkan perhatian serius.
“Krida TUTUR lahir dari pemikiran kami selaku Duta Bahasa Provinsi Banten 2026. Kami sepakat bahwa permasalahan yang paling mendesak untuk diatasi saat ini adalah pelecehan verbal,” kata Christian.
Program tersebut kemudian dirancang dengan pendekatan yang dapat menjangkau pelajar secara langsung. Para Duta Bahasa berharap keberadaan Krida TUTUR dapat membantu menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman dan nyaman.
Tidak hanya mengandalkan kegiatan tatap muka, program ini juga mulai dikembangkan melalui pemanfaatan teknologi digital.
Duta Bahasa Banten 2026 lainnya, Valerina Gresa Tening, mengatakan Krida TUTUR dirancang menggunakan dua instrumen utama, yakni pendekatan fisik dan digital.
Pada tahap awal, program dikembangkan melalui instrumen yang dapat digunakan secara langsung dalam kegiatan edukasi. Namun, perkembangan teknologi mendorong para Duta Bahasa untuk memperluas konsep tersebut melalui platform digital.
“Awalnya kami membuat instrumen fisik. Namun, melihat pentingnya peran digitalisasi, kami mulai mengembangkan aplikasi untuk mendukung keberlanjutan program ini ke depan,” ujar Valerina.
Pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan membuat program Krida TUTUR dapat terus berkembang dan menjangkau lebih banyak pelajar.