Sebelum dikenal sebagai politisi dan menduduki posisi strategis sebagai Ketua MPR RI, Muzani pernah menjalani profesi sebagai wartawan. Berdasarkan profil resmi Fraksi Partai Gerindra, ia mengawali karier jurnalistiknya sebagai wartawan Majalah Amanah pada 1989.
Perjalanan tersebut kemudian mempertemukannya dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Muzani tercatat menjadi anggota PWI pada periode 1990–1996. Ia bahkan pernah mengikuti ujian wartawan muda PWI DKI Jakarta pada 1991.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup Muzani. Dunia jurnalistik, menurutnya, bukan sekadar pekerjaan yang pernah dijalani, tetapi turut membentuk cara pandangnya dalam melihat persoalan masyarakat dan menyampaikan informasi kepada publik.
Dalam sebuah audiensi dengan jajaran PWI, Muzani pernah mengenang salah satu pertanyaan yang diterimanya ketika mengikuti ujian wartawan. Pertanyaan tersebut menggambarkan dilema yang mungkin dihadapi seorang wartawan ketika menjalankan tugas di lapangan.
Saat sedang melakukan peliputan, seorang wartawan menemukan kecelakaan di jalan. Dalam kondisi tersebut, apakah wartawan harus membantu korban terlebih dahulu atau menulis berita?
Muzani memilih membantu korban terlebih dahulu.
Pilihan tersebut menurutnya mencerminkan prinsip dasar jurnalistik yang tidak boleh mengabaikan nilai kemanusiaan. Bagi Muzani, kepentingan masyarakat dan kemanusiaan harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun kepentingan mengejar sebuah berita.
Pandangan tersebut pula yang membuatnya tetap memiliki kedekatan emosional dengan dunia pers meskipun kemudian memilih jalur politik.