Jumat, 14 Agustus 2026
Login Kirim Tulisan
Konten dari Pengguna

Guru MIS AR-RAUDHOTUN NUR Ikuti Sulingjar 2026, Momentum Memotret Kualitas Pembelajaran dan Iklim Madrasah

BAGIKAN:
Guru MIS AR-RAUDHOTUN NUR Ikuti Sulingjar 2026, Momentum Mem...
0
Guru MIS AR-RAUDHOTUN NUR Ikuti Sulingjar 2026, Momentum Memotret Kualitas Pembelajaran dan Iklim Madrasah
Iklan

Garut, 14 Agustus 2026  – Guru-guru MIS AR-RAUDHOTUN NUR melaksanakan pengisian Survei Lingkungan Belajar (Sulingjar) tahun 2026 sebagai bagian dari upaya evaluasi terhadap kondisi nyata lingkungan pendidikan di madrasah. Kegiatan ini menjadi salah satu momentum penting bagi para pendidik untuk merefleksikan berbagai aspek yang berkaitan dengan proses pembelajaran, suasana belajar, keamanan dan kenyamanan peserta didik, hingga dukungan satuan pendidikan dalam menciptakan lingkungan yang mampu menunjang perkembangan siswa secara optimal. Pengisian Sulingjar tidak dipandang sekadar sebagai kegiatan administratif, tetapi menjadi sarana untuk melihat kembali berbagai praktik pendidikan yang berlangsung dalam keseharian madrasah.
 

Sulingjar merupakan survei yang diarahkan untuk mengevaluasi dan memetakan mutu kualitas pembelajaran serta berbagai aspek lingkungan belajar di satuan pendidikan. Melalui instrumen yang tersedia, kondisi madrasah dapat tergambarkan dari berbagai sudut pandang, termasuk bagaimana lingkungan sekolah atau madrasah membangun rasa aman, nyaman, inklusif, dan mendukung proses belajar-mengajar. Karena itu, jawaban yang diberikan oleh guru diharapkan benar-benar merepresentasikan keadaan yang terjadi di lingkungan madrasah, bukan sekadar jawaban yang dianggap paling ideal.

Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum MIS AR-RAUDHOTUN NUR, Insan Faisal Ibrahim, S.Pd., menekankan pentingnya kejujuran dan kesesuaian jawaban dalam proses pengisian Sulingjar. Menurutnya, setiap guru memiliki tanggung jawab untuk memberikan gambaran yang objektif berdasarkan pengalaman dan kondisi yang benar-benar terjadi di madrasah. Data yang terkumpul diharapkan dapat menjadi bahan refleksi untuk mengetahui bagian-bagian yang sudah berjalan dengan baik sekaligus aspek yang masih membutuhkan perhatian dan perbaikan. “ Pengisian Sulingjar harus benar-benar dijawab sesuai dengan keadaan dan kapasitas madrasah. Jangan sampai pengisiannya dilakukan asal-asalan, karena apa yang kita jawab akan ikut memberikan gambaran tentang kondisi dan value madrasah kita sebagai lembaga pendidikan berbasis agama,” ujar Insan Faisal Ibrahim, S.Pd.
 

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa pengisian Sulingjar bukanlah ruang untuk memberikan gambaran yang dibuat-buat mengenai kondisi madrasah. Justru melalui jawaban yang jujur dan objektif, madrasah dapat memperoleh bahan evaluasi yang lebih bermakna. Setiap pertanyaan dalam survei dapat menjadi kesempatan bagi guru untuk melakukan refleksi terhadap praktik pembelajaran dan interaksi yang selama ini dilakukan bersama peserta didik.
 

Salah satu aspek yang menjadi perhatian dalam pengisian Sulingjar berkaitan dengan kemampuan guru dalam menghadapi keberagaman karakter dan kebutuhan peserta didik. Di dalam satu kelas, setiap anak memiliki kemampuan, karakter, latar belakang, dan kebutuhan belajar yang berbeda. Ada peserta didik yang mampu memahami materi dengan cepat, sementara yang lainnya membutuhkan pendampingan lebih intensif. Terdapat pula peserta didik yang memiliki kelebihan tertentu maupun kebutuhan khusus atau disabilitas yang membutuhkan pendekatan pembelajaran dan pendampingan yang lebih sesuai.
 

Dalam konteks tersebut, guru dituntut untuk memiliki kemampuan melihat setiap peserta didik sebagai individu yang memiliki potensi untuk berkembang. Perbedaan kemampuan tidak seharusnya menjadi alasan bagi peserta didik untuk mendapatkan perlakuan yang tidak adil. Sebaliknya, keberagaman tersebut menjadi tantangan bagi guru untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih adaptif, manusiawi, dan mampu memberikan ruang tumbuh bagi setiap anak.
 

Selain persoalan keberagaman peserta didik, Sulingjar juga menjadi ruang refleksi terhadap bagaimana guru menerapkan aturan dan memberikan konsekuensi ketika terjadi pelanggaran. Pendekatan terhadap hukuman atau punishment menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan dalam proses pendidikan. Guru perlu memastikan bahwa konsekuensi yang diberikan tidak mengarah pada tindakan yang merendahkan, mempermalukan, atau menyakiti peserta didik. Pendidikan seharusnya tetap mengedepankan pembinaan karakter, kesadaran terhadap kesalahan, serta kesempatan bagi siswa untuk memperbaiki perilakunya.
 

Hal tersebut menunjukkan bahwa kualitas lingkungan belajar tidak hanya ditentukan oleh fasilitas fisik madrasah. Cara guru berkomunikasi, memperlakukan peserta didik, menyelesaikan persoalan, merespons perbedaan kemampuan, serta menciptakan rasa aman secara psikologis juga menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan pendidikan yang berkualitas. Madrasah yang nyaman bukan hanya madrasah dengan ruang belajar yang baik, tetapi juga tempat di mana peserta didik merasa dihargai, diterima, didampingi, dan diberikan kesempatan untuk berkembang.

Iklan
Sesi Perenungan HUT Pramuka ke-65, MIS AR-RAUDHOTUN NUR Tanamkan Makna Pengabdian dan Nilai Spiritual
Artikel Selanjutnya

Sesi Perenungan HUT Pramuka ke-65, MIS AR-RAUDHOTUN NUR Tanamkan Makna Pengabdian dan Nilai Spiritual

Artikel ini merupakan tanggung jawab kontributor dan tidak mencerminkan pandangan redaksi distrikbantennews.com.
Iklan
Iklan
Kontributor: KABAR AR-RAUDHOTUN NUR
Diterbitkan: 14 Agustus 2026, 16:49 WIB · Diperbarui: 14 Agustus 2026, 16:55 WIB

Berikan Opinimu

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE

Terkini

Maaf, Adblocker Terdeteksi

Iklan adalah sumber pendapatan kami untuk menyajikan berita berkualitas. Mohon nonaktifkan Adblocker Anda, lalu muat ulang halaman.