Dari Pohon Aren ke Pasar Dunia, Gula Lebak Jadi Mesin Ekonomi Masyarakat
Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Mitra Mandala Kabupaten Lebak Anwar Aan mengatakan kelompoknya mengembangkan produksi gula aren dan gula semut dengan memanfaatkan perkebunan pohon aren yang melimpah.
Pengembangan tersebut dilakukan di lahan seluas sekitar 170 hektare dengan melibatkan 148 petani.
Produksi dari kelompok tersebut kemudian dipasarkan ke berbagai daerah dan sebagian telah diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar luar negeri.
“Produksi gula aren di sini dapat menggulirkan uang dari hasil pengembangan usaha hingga ratusan juta rupiah per bulan,” kata Anwar.
Potensi tersebut menunjukkan bahwa pohon aren memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih besar ketika dikelola menjadi produk bernilai tambah.
Jika hanya dijual sebagai bahan baku, nilai ekonominya tentu berbeda dengan ketika nira diolah menjadi gula aren cetak maupun gula semut yang memiliki pasar lebih luas.
Karena itu, penguatan sektor hilir menjadi bagian penting dalam pengembangan komoditas aren di Lebak. Peningkatan kualitas produk, kapasitas produksi, pengemasan, pemasaran serta akses terhadap pasar menjadi sejumlah aspek yang perlu terus diperkuat.
Di sisi lain, perluasan pasar juga harus dibarengi dengan kemampuan pelaku UMKM menjaga kualitas dan kontinuitas produksi. Pasar internasional memiliki standar yang lebih ketat sehingga produk yang dipasarkan harus mampu memenuhi kebutuhan konsumen secara konsisten.
Pemerintah daerah pun memiliki peran penting dalam mendampingi para pelaku usaha agar mampu naik kelas.
Dengan potensi bahan baku yang melimpah, jumlah UMKM yang besar dan pasar yang terus berkembang, gula aren memiliki peluang untuk menjadi salah satu ikon ekonomi kerakyatan Kabupaten Lebak.
Komoditas tersebut juga memperlihatkan bahwa kekuatan ekonomi daerah tidak selalu berasal dari industri berskala besar. Dari perkebunan masyarakat dan usaha rumahan, perputaran ekonomi dapat tumbuh sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan bagi puluhan ribu warga.