Fenomena anak sekolah yang dengan bangga merokok setelah pulang sekolah, bahkan masih mengenakan seragam, menjadi potret yang memprihatinkan bagi dunia pendidikan saat ini.
Seragam yang seharusnya menjadi simbol identitas, kedisiplinan, dan kebanggaan sebagai pelajar, justru ikut tercoreng oleh perilaku yang bertolak belakang dengan nilai-nilai pendidikan itu sendiri.
Ironisnya, perilaku ini tidak lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi, melainkan secara terbuka, seolah tanpa rasa bersalah atau takut terhadap penilaian sosial.
Jika kita amati di berbagai sudut jalan, warung, atau tempat nongkrong, tidak sulit menemukan siswa yang baru saja pulang sekolah, masih lengkap dengan atributnya, sambil menghisap rokok.
Ada yang berjalan santai, ada yang duduk bersama teman-temannya, bahkan ada yang merokok sambil berkendara.
Pemandangan ini seolah menjadi hal yang biasa, bukan lagi sesuatu yang mengejutkan. Inilah yang patut menjadi perhatian serius: ketika perilaku negatif tidak lagi dianggap menyimpang, melainkan menjadi kebiasaan yang diterima.
Dari sudut pandang pendidikan, tentu hal ini merupakan sebuah kegagalan dalam membentuk karakter siswa. Sekolah selama ini telah berupaya menanamkan nilai-nilai positif, mulai dari kedisiplinan, tanggung jawab, hingga perilaku hidup sehat.
Banyak sekolah bahkan memiliki aturan tegas terkait larangan merokok, disertai dengan sanksi yang jelas. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa aturan tersebut seringkali hanya efektif di dalam lingkungan sekolah.
Begitu siswa keluar dari gerbang sekolah, kontrol tersebut seakan hilang. Sayangnya, ketika fenomena ini mencuat ke publik, yang pertama kali disorot adalah pihak sekolah dan guru.
Kritik pun bermunculan, mempertanyakan bagaimana proses pendidikan berlangsung hingga menghasilkan perilaku seperti itu. Guru dianggap gagal mendidik, sekolah dianggap tidak mampu membina karakter siswa.
Padahal, menyederhanakan masalah ini hanya pada satu pihak adalah bentuk ketidakadilan.
Perlu disadari bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah.
Ada peran besar dari keluarga dan lingkungan masyarakat yang turut membentuk perilaku anak. Lingkungan yang permisif terhadap kebiasaan merokok, misalnya, menjadi salah satu faktor utama.
Ketika anak melihat orang orang di sekitarnya merokok tanpa ada batasan, baik itu orang dewasa, teman sebaya, bahkan anggota keluarga, maka perilaku tersebut perlahan dianggap sebagai hal yang wajar.
Selain itu, kurangnya pengawasan dan perhatian dari orang tua juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Banyak orang tua yang mungkin sibuk dengan pekerjaan sehingga tidak mengetahui aktivitas anaknya di luar rumah.
Ada pula yang mengetahui, tetapi memilih untuk tidak terlalu mempermasalahkan, dengan alasan “namanya juga anak laki-laki” atau “nanti juga berhenti sendiri”. Pola pikir seperti ini justru memperkuat kebiasaan buruk tersebut.
Tidak kalah penting adalah peran masyarakat. Fenomena siswa merokok di tempat umum seringkali disaksikan oleh banyak orang, namun jarang ada yang menegur.
Mungkin karena merasa bukan tanggung jawabnya, atau khawatir menimbulkan konflik. Akibatnya, siswa merasa tidak ada konsekuensi sosial dari perbuatannya. Ketika tidak ada teguran, tidak ada rasa malu, maka perilaku itu akan terus berulang.
Dalam konteks ini, kita perlu melihat masalah secara lebih menyeluruh. Menyalahkan sekolah semata tidak akan menyelesaikan persoalan. Diperlukan sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Sekolah tetap harus memperkuat pendidikan karakter dan memberikan pemahaman tentang bahaya merokok, bukan hanya dari sisi kesehatan, tetapi juga dari sisi moral dan tanggung jawab sebagai pelajar.
Di sisi lain, orang tua perlu lebih hadir dalam kehidupan anak, tidak hanya secara fisik tetapi juga emosional. Komunikasi yang baik antara orang tua dan anak dapat menjadi benteng yang kuat dalam mencegah perilaku negatif.
Orang tua juga perlu memberikan contoh yang baik, karena anak cenderung meniru apa yang mereka lihat di rumah. Sementara itu, masyarakat juga memiliki peran penting sebagai lingkungan sosial tempat anak tumbuh.
Budaya saling mengingatkan perlu kembali dihidupkan. Teguran yang disampaikan dengan cara yang baik dan bijak dapat menjadi pengingat bagi siswa bahwa apa yang mereka lakukan tidak sepantasnya dilakukan, apalagi dengan mengenakan seragam sekolah.
Fenomena ini sejatinya bukan hanya tentang merokok, tetapi tentang bagaimana kita bersama-sama menjaga nilai-nilai pendidikan dan masa depan generasi muda.
Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin perilaku ini akan berkembang menjadi kebiasaan yang lebih buruk. Oleh karena itu, sudah saatnya semua pihak mengambil peran, bukan saling menyalahkan, tetapi saling menguatkan dalam membina karakter anak-anak kita.