Jumat, 2 Oktober 2026

Kemiskinan Jerat Ratusan Ribu Warga Brebes Meski Jadi Lumbung Padi Nasional

BAGIKAN:
Kemiskinan Jerat Ratusan Ribu Warga Brebes Meski Jadi Lumbun...
0
Kemiskinan Jerat Ratusan Ribu Warga Brebes Meski Jadi Lumbung Padi Nasional
Ratusan ribu warga Brebes, Jawa Tengah, masih hidup dalam kemiskinan ekstrem meskipun daerah tersebut merupakan lumbung padi nasional. (Dok. Ist)

DISTRIKBANTENNEWS.COM, Bandung - Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, masih menghadapi masalah kemiskinan yang serius. Data Badan Pusat Statistik tahun 2025 mencatat ada sekitar 257 ribu jiwa penduduk miskin di wilayah tersebut.

Angka ini menjadikan Brebes sebagai daerah dengan jumlah penduduk miskin tertinggi di Jawa Tengah. Dari total 2,09 juta jiwa warga Brebes, sebanyak 12,3 persen di antaranya masuk kategori miskin.

Padahal, Brebes dikenal sebagai lumbung padi dan bawang merah nasional. Kondisi ini menunjukkan paradoks kemiskinan di tengah kelimpahan sumber daya agraris.

Salah satu wilayah yang merasakan realitas ini adalah Desa Karangjunti, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes. Desa ini berdekatan dengan wilayah Jawa Barat dan mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai petani padi.

Meskipun memiliki kondisi geografis strategis dan tanah subur, para petani di sana menghadapi berbagai keterbatasan. Keterbatasan tersebut meliputi sulitnya akses terhadap modal dan penggunaan teknologi pertanian yang masih sederhana.

Selain itu, petani juga sangat bergantung pada tengkulak dalam distribusi hasil panen mereka. Situasi ini mengakibatkan nilai ekonomi yang diterima petani tidak sebanding dengan kerja keras yang telah mereka lakukan.

Paradoks kemiskinan di Brebes merupakan akumulasi dari berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut mencakup aspek struktural dan kultural yang saling berkaitan.

Dari sisi struktural, kebijakan pembangunan dinilai belum sepenuhnya berpihak pada petani kecil. Program bantuan yang ada seringkali tidak tepat sasaran atau hanya bersifat jangka pendek.

Akibatnya, program tersebut tidak mampu memberikan dampak berkelanjutan bagi kesejahteraan petani. Infrastruktur pendukung seperti irigasi, jalan distribusi, dan akses pasar juga masih belum optimal.

***

Rektor UWM Prof Edy Suandi Hamid Sebut Ekonomi Indonesia Rapuh, Butuh Perubahan Mendasar
Artikel Selanjutnya

Rektor UWM Prof Edy Suandi Hamid Sebut Ekonomi Indonesia Rapuh, Butuh Perubahan Mendasar

Penulis: Redaksi
Diterbitkan: 18 Maret 2026, 11:00 WIB · Diperbarui: 25 Maret 2026, 01:46 WIB
Sumber: Rilis

Berikan Opinimu

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE

Terkini

DPRD Setujui APBD Perubahan 2026, Andra Soni Fokus Kejar Target RPJMD

Konten Redaksi Rabu, 30 September 2026 | 15:09 WIB

Rupiah Anjlok per Hari Ini, Dolar AS Makin Perkasa

Konten Redaksi Senin, 28 September 2026 | 16:42 WIB

Notaris Jember Ungkap Aspek Hukum Pendirian PT oleh Pasangan Suami Istri

Konten dari Pengguna Opini Minggu, 27 September 2026 | 20:48 WIB

Dimyati: Banten Punya Modal Kuat Jadi Pusat Industri Halal

Konten Redaksi Jumat, 25 September 2026 | 16:34 WIB

Dari Biang Sabun Jadi Cuan, Siswa Belajar Produksi hingga Pemasaran Sabun Cuci Piring

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Kamis, 24 September 2026 | 15:38 WIB

Pemprov Banten Dorong Pemerataan Ekonomi Digital

Konten Redaksi Kamis, 24 September 2026 | 06:08 WIB

KKN Tematik Wasesa Unimus Dampingi 676 Warga Kalicari Manfaatkan Layanan Administrasi Kependudukan Digital

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Sabtu, 19 September 2026 | 09:49 WIB

Manfaatkan Lahan Idle, Warga Binaan Lapas Batang Belajar Budidaya Melon melalui Polybag

Konten dari Pengguna Siaran Pers Jumat, 11 September 2026 | 11:00 WIB

Rupiah Menguat, Tembus Rp17.640 per Dolar

Konten Redaksi Senin, 7 September 2026 | 19:46 WIB