DISTRIKBANTENNEWS.COM, Pertamina - Informasi mengenai cadangan Bahan Bakar Minyak Indonesia yang disebut hanya cukup untuk tiga minggu telah beredar luas di masyarakat. memicu kekhawatiran publik tentang potensi kehabisan bahan bakar.
Kepanikan terlihat dari bayangan antrean panjang di SPBU, pembelian berlebihan, hingga kekhawatiran terganggunya aktivitas ekonomi. Namun, angka tiga minggu tersebut perlu dipahami secara utuh agar tidak menimbulkan kepanikan yang tidak perlu.
Cadangan BBM yang disebut cukup untuk tiga minggu ini sebenarnya merujuk pada ketahanan stok operasional. Ini bukan berarti Indonesia hanya memiliki BBM untuk tiga minggu dalam kondisi normal.
Sistem pasokan energi modern tidak bekerja seperti gudang yang diisi penuh lalu dikonsumsi sampai habis. Sistem ini justru bekerja seperti aliran sungai yang terus bergerak dan diperbarui.
Setiap hari ada produksi dari kilang, ada kapal tanker yang membawa minyak mentah atau BBM dari luar negeri. Selain itu, ada juga distribusi dari terminal penyimpanan menuju ribuan SPBU di seluruh Indonesia.
Rantai pasok energi nasional ini dikelola oleh PT Pertamina. Perusahaan plat merah tersebut mengoperasikan kilang, terminal penyimpanan, kapal pengangkut, hingga sistem distribusi BBM. Artinya, pasokan energi tidak hanya bergantung pada stok yang tersimpan di tangki penyimpanan.
Jika dalam skenario ekstrem tidak ada pasokan baru sama sekali, stok yang ada masih mampu menopang konsumsi nasional sekitar tiga minggu. Periode ini disebut sebagai buffer time, yaitu waktu penyangga bagi negara untuk melakukan berbagai langkah stabilisasi pasokan.
Konsumsi BBM nasional saat ini berada di kisaran 1,4 hingga 1,6 juta barel per hari. Dengan jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa, konsumsi energi Indonesia berada pada kisaran sekitar 0,9 hingga 1 liter BBM per kapita per hari.
***