Kesalehan Asesoris, Potensi Eksploitasi Nilai-Nilai Keluhuran Agama
Kesalehan di ruang publik kian sering tampil sebagai asesori. Ia hadir lewat simbol, slogan, dan gestur religius yang mudah dikenali, namun sering kali terpisah dari tanggung jawab etik.
Kesalehan yang dapat disebut kesalehan asesoris ini bukan fenomena sepele. Ia membuka ruang luas bagi eksploitasi nilai-nilai keluhuran agama.
Agama itu sendiri pada dasarnya menuntut konsistensi antara keyakinan dan tindakan. Ia menguji integritas, kejujuran, dan keberanian moral, terutama ketika berhadapan dengan kekuasaan.
Namun kesalehan asesoris justru mereduksi tuntutan itu menjadi tampilan luar.
Simbol menggantikan substansi. Apa yang dinilai bukan lagi dampak etis dari tindakan, melainkan seberapa religius citra yang diproyeksikan, dan potensi eksploitasi paling nyata terlihat dalam arena politik.
Di tengah masyarakat yang masih menempatkan agama sebagai rujukan moral, simbol kesalehan menjadi instrumen efektif untuk membangun legitimasi.
Citra religius diproduksi dan dipertontonkan, sementara praktik korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan kebijakan yang abai terhadap keadilan sosial terus berlangsung. Dalam situasi ini, agama berhenti menjadi sumber koreksi moral dan berubah menjadi tameng kekuasaan.
Kesalehan asesoris juga berdampak pada cara publik menilai integritas.