Bahkan proses sederhana seperti penggilingan gabah menjadi beras kemasan premium juga bagian dari agroindustri. Dengan kata lain, mengubah hasil tani mentah menjadi produk siap pakai yang memiliki nilai jual yang lebih tinggi.
Bayangkan seorang petani menjual gabah kering panen dengan harga sekitar Rp 8.000 per kilogram. Namun jika gabah tersebut diolah menjadi beras premium, harganya bisa naik menjadi sekitar Rp 16.000 per kilogram.
Dalam laman resmi Kementerian Keuangan RI (2024), Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa tekanan harga beras mencapai 7,7%. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga rantai pasokan dan memperkuat pengolahan hasil pertanian untuk memberi petani lebih banyak nilai tambah.
Padahal Indonesia memiliki potensi agroindustri yang luar biasa. Contohnya, kita memiliki banyak kekayaan alam seperti rempah-rempah, kelapa sawit, kopi, kakao, dan hasil laut.
Selain itu, pelaku agroindustri kecil kini dapat dengan mudah memasarkan barang mereka melalui platform e-commerce dan media sosial berkat kemajuan teknologi digital. Bayangkan saja, kopi bubuk yang dibuat oleh petani Toraja sekarang dapat dibeli oleh konsumen di Jakarta dan bahkan di luar pulau melalui pasar online.
Meskipun terdapat banyak peluang, jalan menuju agroindustri yang berkembang masih menghadapi banyak permasalahan. Infrastruktur tetap menjadi kendala utama.
Jalan rusak di daerah perkebunan membuat pengangkutan mahal dan hasil panen mudah rusak sebelum sampai ke pabrik pengolahan.
Selain infrastruktur, akses permodalan juga merupakan hambatan. Karena tidak memiliki agunan yang cukup, banyak petani dan pelaku UMKM kesulitan mendapatkan pinjaman bank.