Kadar amilosa umumnya berkisar antara 20–30%, sementara amilopektin 70–80% dari total pati. Amilosa memengaruhi penataan amilopektin dalam struktur kristal dan lamela granula, yang penting untuk sifat penyerapan air.
Sementara amilopektin, dengan arsitektur molekulernya yang kompleks, memengaruhi sifat termal dan pembentukan gel.
Di dalam makanan, pati berinteraksi secara kompleks dengan komponen lain, terutama air dan lemak. Sifat pati yang paling sering diukur dan dimanfaatkan dalam makanan melibatkan proses pemanasan dengan air, yang dikenal sebagai gelatinisasi.
Selama pemanasan, granula pati membengkak, menyerap air, dan struktur kristalnya terganggu, diikuti oleh pelindian amilosa dan peningkatan viskositas hingga mencapai maksimum. Viskositas ini kemudian menurun saat granula pecah, dan saat didinginkan, viskositas kembali meningkat, membentuk gel melalui proses retrogradasi.
Proses gelatinisasi dan retrogradasi inilah yang menjadi kunci untuk memprediksi sifat fungsional pati dalam makanan olahan.
Setelah pemanasan dan pendinginan, pati membentuk gel, dengan amilosa dan amilopektin yang berinteraksi membentuk jaringan molekuler. Amilosa cenderung berretrogradasi dalam hitungan menit hingga jam, yang penting untuk sifat seperti daya serap air dan daya cerna, sedangkan amilopektin membutuhkan waktu lebih lama (jam hingga hari).
Kadar amilosa yang lebih tinggi cenderung menghasilkan gel yang lebih kaku, sedangkan pati waxy (hampir 100% amilopektin) membentuk gel yang lebih lunak. Dalam produk seperti nasi, amilosa berkontribusi pada tekstur dan tingkat kelengketan.
Fenomena retrogradasi amilopektin diperkirakan menjadi penentu utama dalam proses staling pada produk roti dan kue.