Hingga saat ini, bapak satu anak itu masih konsisten bersama kopi. Kami diajak berkeliling melihat penyemaian kopi miliknya.
Di tempat inilah Apan bersama Kelompok Tani Sanghyang Payung berjuang melestarikan kopi. Sambil mengenalkan jenis-jenis tanaman kopi yang mereka tanam, mulai dari Liberika, Robusta hingga Arabika dan lainnya, dia tunjukkan satu persatu kepada kami.

Kelompok Petani ini bukan hanya menanam dan merawat kebun kopi. Jauh lebih dari itu, Kelompok Tani Sanghyang Payung dan Kelompok Tani Lawang Taji yang tergabung dalam Lembaga Ekonomi Masyarakat (LEM) Tri Sanghyang telah membuat hutan lestari dan menciptakan ekosistem pertanian dan ekonomi yang inovatif juga solutif dalam memecah persoalan para petani kopi.
"Dulu kami belum mengerti bagaimana menikmati kopi seperti saat ini. Bukan pasar yang merusak harga, tapi kita sendiri yang gak ngerti mengolah kopi," ujar Apan sambil memperlihatkan bibit-bibit kopinya yang siap tanam.
Mengurai polemik petani bukanlah hal yang mudah. Menurut Apan, harga kopi terjun bebas akibat petani yang kurang paham bagaimana memilih dan memilah biji kopi yang bernilai tinggi.
Namun, sejak adanya program LEM hasil kolaborasi Dinas Pertanian Provinsi dan Bank Indonesia Perwakilan Banten, para petani kopi di Kaki Gunung Karang semakin mengerti bagaimana meningkatkan produktivitasnya.
Berbagai pelatihan mulai dari penyemaian, penanaman, perawatan, pemanenan, penjemuran, penyortiran, pengolahan hingga penyajian dilakukan dengan berbagai inovasi dan sinergi antargenerasi dan instansi.

"Kita merawat kopi dengan sangat teliti, bahkan pohon kopi kita ada yang mencapai 10 meter. Itu khusus untuk pembibitan, pohon yang tidak produktif kita tebang dan digantikan dengan tunas yang baru lalu kita stek supaya kembali produktif," kata Apan.