PANDEGLANG — Masyarakat diimbau untuk lebih bijak dan teliti dalam menyaring informasi di media sosial, khususnya terkait isu kebencanaan. Kepolisian dan otoritas setempat menegaskan bahwa rekaman video yang menarasikan kepanikan warga akibat tsunami dan erupsi Gunung Anak Krakatau di Kecamatan Sobang, Kabupaten Pandeglang, Banten, merupakan kabar bohong (hoaks).
Beredarnya video tersebut sempat memicu kekhawatiran publik sebelum akhirnya dibantah secara langsung oleh fakta di lapangan dan pernyataan resmi kepolisian.
Fenomena hoaks kebencanaan ini bermula dari unggahan video yang memperlihatkan lalu lintas kendaraan pada malam hari. Perekam menyertakan narasi provokatif yang mengeklaim air laut telah naik meluap ke kawasan Ciseket akibat letusan Gunung Anak Krakatau.
Perekam juga mendesak warganet untuk membagikan video tersebut guna meminta konfirmasi dari BMKG. Namun, rekaman itu sama sekali tidak menampilkan bukti visual genangan air, luapan laut, maupun kondisi bencana secara faktual.
Menanggapi rumor yang beredar cepat di media sosial, rekaman situasi terkini di perempatan Ciseket dan kawasan sekitarnya menunjukkan kondisi sebaliknya. Jalanan tampak tenang, lalu lintas berjalan normal, dan aktivitas pertokoan warga berlangsung seperti biasa tanpa adanya genangan air maupun tanda-tanda ancaman tsunami.
Guna menenangkan masyarakat dan menghentikan rumor liar, Bhabinkamtibmas Desa Sobang Polsek Panimbang, Aipda Ibnu Setiyadi, memberikan pernyataan resmi langsung dari wilayah Sobang pada Minggu malam (6/9/2026).
"Sehubungan dengan maraknya beredar video tentang masyarakat Sobang yang mengungsi akibat tsunami dan letusan Gunung Krakatau, dengan ini saya menyatakan bahwa video tersebut TIDAK BENAR (HOAKS). Sekarang situasinya tidak ada yang mengungsi, masyarakat Sobang pun tidak merasakan ada hal-hal yang tidak diinginkan. Situasi aman dan kondusif," tegas Aipda Ibnu dalam rekaman resminya.

Masyarakat diimbau agar selalu melakukan saring sebelum saring terhadap setiap konten kebencanaan yang diterima melalui grup perpesanan maupun media sosial.
Apabila menerima kabar menyangkut ancaman tsunami atau letusan gunung berapi, warga diharapkan tidak langsung membagikannya dan segera memverifikasi kebenaran informasi melalui akun dan kanal komunikasi resmi instansi pemerintah serta kepolisian setempat.