Ikuti Kami
Jumat, 14 Agustus 2026 Versi Web

Bukan Cuma Angkat Senjata, Danpusterad Ungkap Wujud Bela Negara di Era Digital

Penulis: Yustinus Agus
Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:52 WIB
Facebook
X
WhatsApp
Lainnya

BANDUNG — Bela negara tidak selalu identik dengan seragam, senjata, maupun aktivitas kemiliteran. Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, bela negara justru semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari menjaga persatuan, bijak menggunakan media sosial, hingga menunjukkan integritas dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Pesan tersebut disampaikan Komandan Pusat Teritorial Angkatan Darat (Danpusterad) Letjen TNI Mochamad Syafei Kasno dalam Forum Kebangsaan bertema “Kesadaran Bela Negara Merupakan Pondasi Dasar Menuju Indonesia Emas” yang berlangsung di Aula Muhammad Toda Kodiklatad, Bandung, Kamis (13/8/2026).

Forum tersebut menjadi bagian dari Program Unggulan Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, M.Si. Kegiatan diikuti sebanyak 526 peserta yang berasal dari berbagai unsur masyarakat, di antaranya tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, pemuda, mahasiswa, pelajar hingga organisasi kemasyarakatan.

Dalam forum tersebut, Danpusterad menekankan bahwa kesadaran bela negara merupakan salah satu fondasi penting untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sekaligus mempersiapkan generasi penerus dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

Menurutnya, tantangan yang dihadapi bangsa saat ini semakin kompleks. Ancaman terhadap keutuhan negara tidak lagi hanya datang dalam bentuk konflik bersenjata atau ancaman militer, tetapi juga dapat muncul melalui perkembangan teknologi digital, persoalan ideologi, ekonomi, sosial, budaya hingga penyebaran informasi yang tidak terkendali.

Karena itu, masyarakat dituntut memiliki kemampuan untuk menyaring berbagai informasi dan tidak mudah terprovokasi oleh isu yang dapat memecah persatuan.

Danpusterad mengingatkan bahwa sejarah telah memberikan banyak pelajaran mengenai pentingnya persatuan. Salah satu contoh yang disampaikan adalah runtuhnya Yugoslavia pada awal 1990-an yang dipengaruhi oleh berbagai persoalan, mulai dari krisis politik dan ekonomi, konflik antaretnis, hingga melemahnya kekuatan pemersatu.

Dari pengalaman tersebut, persatuan menjadi modal penting yang harus terus dijaga oleh bangsa Indonesia yang memiliki latar belakang masyarakat sangat beragam.

Penulis: Yustinus Agus
Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:52 WIB
Artikel Selanjutnya

Guru MIS AR-RAUDHOTUN NUR Ikuti Sulingjar 2026, Momentum Memotret Kualitas Pembelajaran dan Iklim Madrasah

Mode AMP — versi ringan & cepat
Versi Lengkap

Terkini

↑ Kembali ke atas
Bukan Cuma Angkat Senjata, Danpusterad Ungkap Wujud Bela Negara di Era Digital

Bagikan artikel ini melalui