Bukan Cuma Angkat Senjata, Danpusterad Ungkap Wujud Bela Negara di Era Digital
“Bela negara bukan hanya tugas TNI, tetapi hak dan kewajiban seluruh warga negara,” tegas Letjen TNI Mochamad Syafei Kasno.
Ia menjelaskan, keberagaman Indonesia yang terdiri atas berbagai suku, bahasa, agama dan kebudayaan sebenarnya merupakan kekuatan besar. Namun, kekuatan tersebut harus dirawat melalui sikap toleransi, nasionalisme dan semangat persatuan.
Di era digital, bentuk bela negara juga mengalami perkembangan. Masyarakat, khususnya generasi muda, tidak cukup hanya memahami nilai-nilai kebangsaan secara teoritis, tetapi harus mampu menerapkannya dalam aktivitas sehari-hari.
Etika ketika menggunakan media sosial, tidak menyebarkan informasi palsu, menghormati perbedaan pendapat, menjaga persatuan serta tidak mudah terprovokasi merupakan bagian dari sikap bela negara yang dapat dilakukan siapa saja.
“Bela negara harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui integritas, etika digital, kreativitas, kepedulian sosial, semangat gotong royong, serta kebanggaan terhadap identitas bangsa,” ujarnya.
Menurutnya, bagi TNI Angkatan Darat, penguatan nilai-nilai tersebut dilakukan antara lain melalui Pembinaan Teritorial serta upaya mempererat Kemanunggalan TNI dengan Rakyat.
Dalam kesempatan itu, Danpusterad juga menyoroti sejumlah tantangan yang dihadapi generasi muda. Di antaranya pemahaman nasionalisme yang masih sebatas simbol, kesadaran bela negara yang belum merata, meningkatnya individualisme, berkurangnya literasi sejarah serta masuknya berbagai pengaruh ideologi transnasional melalui ruang digital.
Kondisi tersebut membutuhkan perhatian bersama. Pendidikan karakter dan wawasan kebangsaan dinilai tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau institusi pendidikan, tetapi membutuhkan keterlibatan keluarga, masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, organisasi kepemudaan dan seluruh elemen bangsa.