Yayasan Ar-Raudhotun Nur Gelar Doa Bersama Rebo Kasan, Perkuat Nilai Spiritual dan Moral Siswa
Yayasan Ar-Raudhotun Nur menggelar kegiatan doa bersama dalam rangka Rebo Kasan, yaitu Rabu terakhir pada bulan Safar. Kegiatan yang diikuti oleh seluruh peserta didik dari jenjang Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), hingga Madrasah Tsanawiyah (MTs) tersebut berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh kebersamaan. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk ikhtiar spiritual sekaligus sarana pendidikan karakter bagi para siswa agar semakin memahami pentingnya doa, kebersamaan, dan ketawadhuan dalam menjalani kehidupan.
Doa bersama tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Yayasan Ar-Raudhotun Nur, KH. Adis Abdullah Effendi. Dalam kesempatan tersebut, beliau memberikan pemahaman kepada seluruh peserta mengenai cara menyikapi bulan Safar secara bijak. Selama ini, masih terdapat anggapan di tengah masyarakat bahwa bulan Safar merupakan bulan yang identik dengan datangnya berbagai bencana, kesialan, atau musibah. Anggapan tersebut kemudian tidak jarang melahirkan rasa takut yang berlebihan terhadap bulan tertentu.
KH. Adis Abdullah Effendi menegaskan bahwa tidak semestinya manusia memandang bulan Safar sebagai bulan yang buruk atau harus ditakuti. Menurutnya, seluruh bulan dan waktu merupakan bagian dari ketetapan Allah Swt. yang memiliki kebaikan masing-masing. “Jangan sampai kita menganggap bulan Safar sebagai bulan yang penuh bencana, kemudian membuat kita takut dan berprasangka buruk terhadap waktu. Semua bulan itu baik, karena seluruh waktu merupakan ketetapan Allah Swt. yang harus kita jalani dengan ikhtiar, doa, dan keyakinan,” ungkap KH. Adis dalam pemaparannya.
Lebih lanjut, KH. Adis menjelaskan bahwa kegiatan doa bersama dalam rangka Rebo Kasan tidak dimaksudkan untuk menumbuhkan ketakutan terhadap bulan Safar. Sebaliknya, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mengajak seluruh keluarga besar Yayasan Ar-Raudhotun Nur memperbanyak munajat dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Doa menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia karena melalui doa seseorang menyadari bahwa dirinya memiliki keterbatasan dan senantiasa membutuhkan pertolongan dari Allah Swt.
“Memohon dan bermunajat kepada Allah melalui doa bukan hanya dilakukan ketika kita sedang takut atau menghadapi kesulitan. Doa adalah bentuk ibadah dan pengakuan bahwa sehebat apa pun manusia, tetap memiliki keterbatasan dan membutuhkan pertolongan Allah Swt.,” tegas KH. Adis Abdullah Effendi. Pesan tersebut menjadi salah satu inti penting dalam kegiatan Rebo Kasan, khususnya dalam memberikan pemahaman keagamaan yang dapat diterima dan diterapkan oleh para siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan doa bersama ini juga memiliki nilai pendidikan yang sangat kuat. Para siswa tidak hanya diajak untuk mengikuti rangkaian doa, tetapi juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya membangun hubungan yang baik dengan Allah Swt. Pendidikan spiritual seperti ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pembentukan karakter peserta didik. Kecerdasan akademik perlu berjalan beriringan dengan akhlak, keimanan, dan kesadaran bahwa setiap manusia memiliki keterbatasan.
Selain nilai spiritual, Rebo Kasan di lingkungan Yayasan Ar-Raudhotun Nur juga menyisipkan pesan moral mengenai pentingnya hidup bersama dan saling membutuhkan. Para siswa diberikan pemahaman bahwa manusia tidak dapat menjalani kehidupan seorang diri. Sebesar apa pun kemampuan, kecerdasan, jabatan, ataupun pencapaian seseorang, tetap ada saatnya ia membutuhkan bantuan, dukungan, dan kehadiran orang lain. Kesadaran tersebut diharapkan dapat membentuk pribadi siswa yang rendah hati, tidak sombong, mau menghargai orang lain, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan di sekitarnya.
Pesan tentang pentingnya kebersamaan tersebut semakin terasa karena kegiatan Rebo Kasan diikuti oleh siswa dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari RA, MI, hingga MTs. Mereka berkumpul dalam satu kegiatan dan mengikuti doa bersama dengan suasana yang penuh kekhidmatan. Kebersamaan lintas jenjang tersebut menjadi gambaran bahwa seluruh warga Yayasan Ar-Raudhotun Nur merupakan bagian dari satu keluarga besar yang memiliki tujuan yang sama, yaitu membangun generasi yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia.
Kegiatan ini juga menjadi kesempatan bagi para siswa untuk belajar bahwa tradisi keagamaan tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan ritual, tetapi juga memiliki pesan kehidupan yang dapat diterapkan dalam keseharian. Melalui doa, siswa belajar untuk berserah diri kepada Allah Swt. Melalui ikhtiar, mereka belajar untuk tidak mudah menyerah. Sementara melalui kebersamaan, mereka belajar bahwa kehidupan akan menjadi lebih bermakna ketika seseorang mampu hadir dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Yayasan Ar-Raudhotun Nur berharap kegiatan doa bersama dalam rangka Rebo Kasan dapat menjadi momentum untuk memperkuat keimanan dan karakter seluruh peserta didik. Para siswa diharapkan tidak hanya memahami Rebo Kasan sebagai sebuah tradisi yang dilaksanakan pada Rabu terakhir bulan Safar, tetapi juga mampu mengambil nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti memperbanyak doa, meningkatkan rasa syukur, memperkuat hubungan dengan Allah Swt., serta menjaga hubungan baik dengan sesama manusia.
Pada akhirnya, kegiatan Rebo Kasan di Yayasan Ar-Raudhotun Nur menjadi pengingat bahwa manusia memiliki keterbatasan dan tidak selayaknya merasa mampu menghadapi segala sesuatu seorang diri. Doa mengajarkan manusia untuk memohon kepada Allah Swt., sementara kebersamaan mengajarkan bahwa setiap orang membutuhkan orang lain. Melalui kegiatan ini, nilai spiritual dan moral diharapkan dapat tumbuh secara bersamaan dalam diri para siswa RA, MI, dan MTs, sehingga mereka tidak hanya menjadi generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki keimanan, akhlak, kepedulian, dan kerendahan hati dalam menjalani kehidupan.