Gibran mengajak Raka ke taman. Mereka berlari, tertawa, bermain kejar-kejaran—hal-hal sederhana yang selama ini terasa “tidak penting”.
Namun justru di sanalah ia menemukan sesuatu yang selama ini hilang.
Kebahagiaan.
Bukan dari angka di rekening. Bukan dari pencapaian pekerjaan.
Melainkan dari tawa seorang anak yang merasa dicintai.
Malam harinya, saat Raka tertidur di sampingnya, Gibran menatap langit-langit kamar.
Ia masih ingin bekerja keras. Masih ingin memberikan yang terbaik.
Namun kini ia tahu satu hal:
Uang bisa dicari. Tapi waktu… tidak akan pernah kembali.