“Maaf ya, Nak… Ayah salah…”
Raka tidak langsung mengerti. Ia hanya membalas pelukan itu.
“Ayah kira… dengan kerja keras, Ayah bisa bikin Raka bahagia…” lanjut Gibran dengan suara bergetar.
“Raka sudah bahagia, Yah… kalau Ayah ada…” jawab Raka sederhana.
Dan kalimat itu…
Menghancurkan semua pertahanan yang selama ini Gibran bangun.
Air matanya jatuh.
Untuk pertama kalinya, bukan karena lelah, tetapi karena sadar.
Bahwa selama ini, ia terlalu sibuk mengejar masa depan… sampai lupa hadir di masa sekarang.
Hari itu, laptop tetap tertutup.