Sejak hari itu, Gibran mulai belajar.
Belajar menutup laptop lebih cepat.
Belajar mendengarkan lebih banyak.
Belajar hadir—bukan hanya secara fisik, tetapi juga dengan hati.
Karena ia tidak ingin suatu hari nanti, Raka tumbuh dewasa…
…dan hanya memiliki kenangan tentang seorang ayah yang selalu sibuk.
—SELESAI—
Catatan Penulis
Cerita ini bukan sekadar rangkaian kata untuk mengaduk perasaan. Di balik setiap dialog dan adegan, terselip potongan nyata dari kehidupan penulis sendiri—tentang kesibukan, tentang alasan bekerja keras demi keluarga, dan tentang tanpa sadar mengurangi waktu untuk orang-orang yang paling berharga.
Melalui kisah Raka dan Gibran, penulis ingin menyampaikan bahwa sering kali kita terlalu fokus mengejar masa depan, hingga lupa bahwa kebahagiaan sejati justru ada di saat ini: dalam tawa kecil anak, dalam pelukan hangat keluarga, dan dalam kehadiran yang utuh—bukan sekadar fisik.
Semoga cerita ini menjadi pengingat sederhana bahwa anak tidak selalu meminta banyak.
Mereka hanya ingin kita ada.