“Sebentar saja,” jawabnya lagi.
Raka tidak langsung menjawab. Ia hanya duduk di kursi, menatap ayahnya dengan cara yang berbeda. Bukan seperti anak kecil yang merengek, tetapi seperti seseorang yang sedang berpikir.
Beberapa menit berlalu.
Raka turun dari kursi, lalu berjalan ke kamar. Tak lama kemudian, ia kembali membawa sebuah celengan kecil berbentuk mobil.
Ia meletakkannya di atas meja, tepat di depan Gibran.
“Ayah,” katanya pelan.
Gibran menoleh. “Iya, Nak?”
“Kalau Raka kasih uang ini ke Ayah… Ayah bisa nggak berhenti kerja hari ini?”