Namun, seperti malam-malam sebelumnya, kata maaf itu hanya berhenti di udara.
Keesokan harinya adalah hari Minggu.
Seharusnya hari untuk keluarga.
Namun, laptop Gibran kembali terbuka di meja makan.
“Ayah, hari ini kita main mobil-mobilan ya?” tanya Raka dengan mata berbinar.
Gibran tersenyum tipis, tanpa benar-benar menatap anaknya. “Nanti ya, Nak. Ayah lagi ada kerjaan sedikit.”
“Sedikit itu berapa lama, Yah?” tanya Raka lagi.
Gibran terdiam sejenak. Pertanyaan itu terasa sama seperti kemarin. Dan hari-hari sebelumnya.