Gibran menghela napas. “Sebentar… ya sebentar. Nanti kalau Ayah sudah selesai, kita main.”
Raka mengangguk pelan, meski ia tidak benar-benar mengerti arti “sebentar” versi orang dewasa. Baginya, lima menit saja sudah terasa lama. Apalagi satu jam. Atau dua jam. Atau… sampai ia tertidur.
Ia berjalan kembali ke ruang tengah, duduk di lantai, dan memainkan mobil-mobilannya sendiri.
Sunyi.
Hanya suara hujan dan sesekali bunyi ketikan dari dalam ruang kerja yang menemani.
Hari-hari Gibran memang selalu seperti itu. Pagi berangkat sebelum Raka benar-benar bangun, malam pulang saat Raka hampir terlelap. Bahkan di hari Minggu, saat kebanyakan orang menikmati waktu bersama keluarga, Gibran tetap sibuk dengan pekerjaannya.
Baginya, semua ini bukan tanpa alasan.
Ia ingat betul masa kecilnya.
Rumah sempit, atap bocor, dan keinginan-keinginan kecil yang tak pernah terpenuhi. Ia pernah menangis karena tidak dibelikan sepatu baru saat masuk sekolah. Ia pernah menahan malu karena harus memakai baju yang sudah lusuh.