Wali Kota Serang Resmikan Ruang Kelas Baru dan Pembangunan Jalan Hotmix di SDN Banten Indah Permai
KOTA SERANG — Wali Kota Serang, Budi Rustandi, meresmikan Ruang Kelas Baru (RKB) dan pembangunan jalan hotmix di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Banten Indah Permai pada Jumat, 12 Desember 2025.
Budi menyampaikan bahwa pembangunan tersebut merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kota Serang dalam menekan angka putus sekolah (APS).
Ia juga berencana menambah fasilitas keamanan di lingkungan sekolah.
“Insyaallah nanti ada pemagaran di belakang. Memang ini perlu kenyamanan ngeri juga ya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Budi menjelaskan bahwa pembangunan sarana pendidikan ini terlaksana melalui kerja sama dengan pihak swasta, yakni PT Arya Agung, yang telah berkontribusi melalui program CSR.
“Kebetulan lahannya luas yang di Ini ini lahan dari CSR ya. Dari PT Arya Agung. Luasnya tadi itu berapa? 3.000,” kata Budi.
Tiga Ruang Kelas Baru yang diresmikan ini, menurut Budi, merupakan bagian dari komitmen Pemkot Serang untuk meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus menekan angka siswa yang putus sekolah.
“Ini salah satu upaya kita agar tidak ada warga kita yang putus sekolah. Angkanya putus sekolah tinggi ini akan kita maksimalkan agar ke depannya angka putus sekolah semakin menurun ya,” ujarnya.
Ia berharap seluruh fasilitas yang telah dibangun dapat digunakan secara optimal oleh masyarakat.
“Semoga ini fasilitas ini bisa dimanfaatkan dengan warga Kota Serang. Tentunya kita lihat ruang kelas barunya dengan belajar yang baru-baru ya, ternyata muridnya di sini luar biasa,” pungkasnya.
Diketahui, berdasarkan berbagai sumber, Angka Putus Sekolah (APS) masih menjadi masalah serius di Indonesia. Data terbaru tahun 2024/2025 menunjukkan lebih dari 4 juta anak tidak melanjutkan pendidikan, dengan tingkat putus sekolah tertinggi berada pada jenjang menengah (SMA/SMK).
Faktor ekonomi keluarga, minimnya fasilitas pendidikan, serta persoalan sosial menjadi penyebab dominan. Sementara itu, data 2022 mencatat APS SMP sebesar 1,06%, SMA 1,38%, dan SD 0,13%, dengan siswa laki-laki lebih banyak putus sekolah karena kecenderungan bekerja lebih dini. ***