Ikuti Kami
Minggu, 18 Oktober 2026 ⚡ Versi Web
Konten dari Pengguna Opini

IPK Tinggi, tetapi Takut Berbicara: Apakah Pendidikan Sudah Membentuk Mahasiswa yang Komunikatif?

Kontributor: Ghefira Lia
Minggu, 18 Oktober 2026 | 09:17 WIB
Facebook
X
WhatsApp
Lainnya

Sebagai mahasiswa, kita tentu ingin mendapatkan nilai dan IPK yang memuaskan. Namun, keberhasilan kuliah tidak seharusnya hanya diukur dari angka dalam transkrip nilai. Kemampuan berkomunikasi, menyampaikan pendapat, dan berdiskusi juga penting untuk dikembangkan.

Di kampus, ada mahasiswa yang memahami materi, tetapi memilih diam saat sesi tanya jawab. Ada pula yang memperoleh nilai tinggi, tetapi gugup ketika presentasi. Memahami materi dan menyampaikannya merupakan dua kemampuan yang perlu dilatih bersama. Setelah lulus, mahasiswa perlu bekerja sama, menjelaskan ide, dan menyampaikan pendapat di dunia kerja maupun masyarakat.

Salah satu penyebab mahasiswa takut berbicara adalah kurangnya rasa percaya diri. Mereka mungkin takut salah menjawab, ditertawakan, atau dianggap tidak memahami materi. Akhirnya, mereka memilih diam meskipun memiliki pendapat. Rasa takut juga dapat muncul dari pengalaman sebelumnya. Mahasiswa yang pernah mendapat komentar kurang menyenangkan mungkin ragu untuk mencoba lagi. Ada pula yang jarang berbicara sehingga belum terbiasa menjadi pusat perhatian.

Menurut saya, rasa gugup bukan berarti seseorang tidak mampu. Kesalahan merupakan bagian dari proses belajar. Ketika lupa saat presentasi atau belum bisa menjawab pertanyaan, pengalaman itu dapat menjadi bahan evaluasi. Berani berbicara bukan berarti tidak takut sama sekali, melainkan mau mencoba meskipun masih gugup.

Public speaking bukan hanya tentang berbicara lantang di depan banyak orang. Kemampuan ini mencakup penyusunan pesan, pemilihan kata, penjelasan yang runtut, serta pemahaman terhadap pendengar.

Kemampuan tersebut dapat dikembangkan melalui latihan sederhana. Mahasiswa bisa bertanya, menyampaikan pendapat dalam diskusi, atau menjelaskan materi dengan bahasa sendiri. Berlatih di depan cermin, merekam suara, dan meminta masukan teman juga dapat membantu. Organisasi kampus, seminar, dan kepanitiaan menjadi kesempatan untuk mengasah komunikasi. Menjadi moderator, misalnya, melatih mahasiswa membuka pembicaraan dan mengatur diskusi. Kita tidak harus langsung mahir, tetapi perlu berani mencoba.

Tanggung jawab membentuk mahasiswa komunikatif bukan hanya milik mahasiswa, tetapi juga perguruan tinggi. Dosen perlu memberi kesempatan yang merata untuk bertanya dan berdiskusi. Suasana kelas harus mendukung agar mahasiswa tidak takut ketika jawabannya kurang tepat.

Di sisi lain, mahasiswa perlu aktif mengambil kesempatan untuk belajar. Materi presentasi sebaiknya disiapkan lebih awal. Kita juga tidak perlu membandingkan diri dengan teman karena setiap orang memiliki proses belajar yang berbeda.

Menurut saya, menjadi mahasiswa bukan hanya tentang memperoleh IPK tinggi, tetapi juga mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah lulus. Pengetahuan akademik akan lebih

Oleh Julian (231010500464) 

Kontributor: Ghefira Lia
Minggu, 18 Oktober 2026 | 09:17 WIB
Catatan Redaksi

Tulisan ini merupakan opini pengguna. Pandangan yang disampaikan menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan Redaksi Distrik Banten News. Status Kontributor tidak menunjukkan keanggotaan Redaksi maupun kewenangan untuk mewakili Distrik Banten News.

Artikel Selanjutnya

Andra Soni Raih Penghargaan Al Khairiyah, Dorong Mengaji Jadi Muatan Lokal

Mode AMP — versi ringan & cepat
Versi Lengkap

Terkini

↑ Kembali ke atas
IPK Tinggi, tetapi Takut Berbicara: Apakah Pendidikan Sudah Membentuk Mahasiswa yang Komunikatif?

Bagikan artikel ini melalui