Mengapa Kita Takut Bicara di Depan Orang Banyak?
Maka, belajar public speaking seharusnya tidak berhenti pada latihan intonasi, ekspresi, atau bahasa tubuh. Ada hal yang lebih mendasar: belajar berpikir sebelum berbicara.
Menurut saya, justru bagian inilah yang sering dilupakan.
Kita ingin berbicara dengan percaya diri, tetapi lupa memastikan apakah yang kita katakan memang memiliki dasar. Kita ingin terlihat meyakinkan, tetapi lupa bahwa meyakinkan orang lain tidak berarti memaksakan pendapat. Kita ingin didengar, tetapi terkadang tidak mau mendengarkan.
Pada akhirnya, public speaking adalah keterampilan yang jauh lebih luas daripada sekadar berdiri di atas panggung. Ia hadir ketika seseorang menyampaikan pendapat dalam rapat, mengutarakan ide kepada rekan kerja, berbicara dalam wawancara, bahkan ketika memberikan tanggapan dalam percakapan sehari-hari.
Karena itu, mungkin sudah waktunya kita berhenti melihat public speaking sebagai kemampuan eksklusif milik presenter, motivator, atau pejabat publik. Setiap orang membutuhkan kemampuan untuk menyampaikan pikirannya dengan jelas.
Tidak perlu menunggu menjadi pembicara yang hebat untuk mulai berbicara. Justru dengan berani berbicara, membuat kesalahan, menerima kritik, lalu mencoba lagi, seseorang perlahan menemukan caranya sendiri.
Sebab pada akhirnya, orang tidak selalu mengingat seberapa sempurna kita berbicara. Mereka lebih mungkin mengingat apakah ada sesuatu yang bermakna dari apa yang kita katakan.
Ditulis oleh: Widya Astuti dan Melda Wiguna, S.E., M.M
Tulisan ini merupakan opini pengguna. Pandangan yang disampaikan menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan Redaksi Distrik Banten News. Status Kontributor tidak menunjukkan keanggotaan Redaksi maupun kewenangan untuk mewakili Distrik Banten News.