Edukasi Dan Promosi Desa Wisata Candirejo Melalui Sejarah Banyu Asin Dan Strategi Inovasi Pariwisata Kreatif
Selain nilai sejarah dan ilmiah, Tuk Banyu Asin juga diikat oleh nilai spiritual dan aturan adat yang dijaga ketat warga Dusun Kaliduren. Situs ini menjadi pusat pelaksanaan tradisi ruwatan, yaitu prosesi pengambilan air yang memiliki makna sakral bagi masyarakat setempat. Berlaku pula norma adat yang melarang pengunjung mandi langsung di sumber mata air serta larangan mengotori kawasan sekitar, yang secara tidak langsung berfungsi sebagai mekanisme konservasi lingkungan yang efektif.
KENDALA INFRASTRUKTUR DAN RANCANGAN PENGEMBANGAN KAWASAN
Meski Desa Candirejo telah diresmikan sebagai salah satu desa wisata tertua di Indonesia dan pernah mencatatkan pendapatan hingga dua miliar rupiah per tahun melalui skema penyertaan modal desa, pengembangan kawasan Tuk Banyu Asin secara khusus masih menghadapi sejumlah kendala. Area parkir masih sangat terbatas, karena kendaraan wisatawan selama ini masih menumpang di pekarangan atau bengkel milik warga. Akses menuju lokasi utama pun hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki melalui jalur yang belum tertata, sementara alokasi waktu kunjungan dalam paket wisata desa relatif singkat, sekitar dua jam. Kondisi ini membuat KDWC belum memasukkan Tuk Banyu Asin ke dalam paket wisata utama, guna menghindari lonjakan pengunjung yang melebihi daya dukung kawasan.
Untuk menjawab tantangan tersebut tanpa merusak integritas alam dan nilai budaya setempat, tim KKN UNS berkolaborasi dengan mahasiswa Teknik Sipil Untidar merumuskan rancangan penataan spasial kawasan Tuk Banyu Asin. Rancangan ini mengusung konsep wisata rekreasi dan relaksasi alam yang memanfaatkan potensi Sungai Sileng, batuan alami, serta vegetasi lokal.
Pada zona atas di tepi jalan utama, dirancang bangunan penerima yang berfungsi ganda sebagai loket tiket dan kafe kecil, lengkap dengan teras pandang yang menghadap langsung ke panorama sungai dan titik mata air. Area ini difungsikan sebagai ruang singgah dan tempat bersantai bagi wisatawan. Pada zona bawah, wisatawan diarahkan melalui jalur pedestrian menuju area terbuka hijau yang dimanfaatkan sebagai area duduk di atas rumput, lokasi memancing, area bermain air, serta titik utama Tuk Banyu Asin.
Sebagai elemen penghubung antar-sisi sungai, dirancang pula jembatan pejalan kaki berbahan perpaduan baja dan kayu dengan sistem konstruksi modular yang dapat dilepas-pasang sementara saat musim penghujan, guna mengantisipasi luapan banjir Sungai Sileng. Rancangan ini disusun secara partisipatif bersama warga dan pengelola dusun, dan untuk saat ini masih berstatus sebagai usulan awal yang didiseminasikan untuk dibahas lebih lanjut, karena program masih berada pada tahap perancangan dan belum diimplementasikan secara fisik.
FORUM DISKUSI INOVASI: MENUJU SLOW TOURISM DAN SPORTS TOURISM
Selain program edukasi sejarah Tuk Banyu Asin, tim KKN UNS dan Untidar juga menggelar forum Diskusi Inovasi sebagai Media Koordinasi Strategis dan Edukasi Pariwisata untuk Mendukung Transformasi Desa Wisata Candirejo. Forum ini mempertemukan pengelola desa wisata, pemuda penggerak desa dari Karang Taruna, pelaku UMKM tradisional, serta narasumber dari Dinas Pariwisata, Keolahragaan, dan Pemuda Kabupaten Magelang.
Artikel ini merupakan karya pengguna yang dikirim melalui platform Distrik Banten News dan telah melalui proses moderasi. Status Kontributor tidak menunjukkan keanggotaan Redaksi maupun kewenangan untuk mewakili Distrik Banten News.