Edukasi Dan Promosi Desa Wisata Candirejo Melalui Sejarah Banyu Asin Dan Strategi Inovasi Pariwisata Kreatif
MAGELANG - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) berkolaborasi dengan Universitas Tidar (Untidar) menjalankan program pengabdian masyarakat di Dusun Kaliduren, Desa Candirejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, selama periode Juli hingga Agustus 2026. Mengusung tema Optimalisasi Sektor Wisata dan Lingkungan Desa, program ini berfokus pada dua hal utama: Penggalian dan Edukasi Sejarah Mata Air Tuk Banyu Asin, serta perumusan Strategi Inovasi Pariwisata Kreatif untuk menjawab tantangan baru yang dihadapi Desa Wisata Candirejo.
Desa Candirejo dikenal luas sebagai salah satu pencetus desa wisata berbasis masyarakat di Indonesia, dengan tata kelola yang tergolong mapan. Namun, di tengah dinamika tren pariwisata global, desa ini menghadapi sejumlah tantangan baru, mulai dari menurunnya minat wisatawan mancanegara terhadap dokar sebagai moda transportasi tradisional akibat isu kesejahteraan hewan, hambatan komunikasi antara pengelola desa wisata dan pelaku UMKM lokal, hingga promosi digital yang belum dijalankan secara berkelanjutan. Kondisi topografi wilayah yang berbukit dan berdekatan dengan Gunung Merapi juga membuat desa ini rentan terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan aliran lahar dingin.
MENELUSURI SEJARAH TUK BANYU ASIN
Salah satu fokus program KKN adalah kawasan Tuk Banyu Asin, sebuah mata air di Dusun Kaliduren yang unik karena rasanya asin meski lokasinya berjarak sekitar tiga kilometer dari Candi Borobudur dan jauh dari laut. Melalui wawancara mendalam bersama tokoh masyarakat, tim menemukan bahwa keberadaan mata air ini hidup melalui dua narasi utama yang berbeda.
Versi pertama disampaikan oleh Sularto, yang akrab disapa Pak Kuncung, mantan Kepala Dusun Kaliduren. Cerita ini mengaitkan mata air tersebut dengan peristiwa sejarah Pangeran Diponegoro. Konon, kuda tunggangan sang pangeran yang kehausan saat dikejar pasukan kolonial Belanda meminum air dari sumber tersebut, yang kemudian berubah asin akibat sabda sang pangeran. Cerita ini didukung jejak fisik berupa batu yang diyakini sebagai bekas pijakan kuda pangeran, serta bentang alam Pegunungan Menoreh yang menyerupai sosok Pangeran Diponegoro yang sedang berbaring.
Versi kedua disampaikan oleh A.M. Ersyidik, Ketua Koperasi Desa Wisata Candirejo (KDWC). Menurut cerita ini, kawasan Candirejo dahulu merupakan bagian dari danau purba raksasa. Letusan Gunung Merapi yang diperkirakan terjadi sekitar tahun 1006 Masehi disebut membawa material dari wilayah laut hingga menutupi sebagian kawasan, yang kemudian memicu keluarnya air asin melalui retakan tanah.
Dua narasi yang berbeda ini justru menjadi aset penting bagi promosi wisata berbasis storynomics. Cerita rakyat semacam ini bukan sekadar mitos, melainkan bagian dari memori kolektif yang membentuk identitas kultural dan kebanggaan lokal masyarakat setempat.
Dari sisi ilmiah, fenomena air asin di daratan yang jauh dari laut sebenarnya memiliki penjelasan geologis yang sudah teruji di tempat lain. Studi pembanding di Desa Ciuyah, Kabupaten Sumedang, yang diteliti oleh Badan Geologi Kementerian ESDM, menunjukkan bahwa rasa asin pada mata air daratan umumnya disebabkan oleh connate water, yaitu air laut purba yang terperangkap dalam lapisan sedimen batuan selama jutaan tahun dan terangkat ke permukaan akibat proses tektonik. Penjelasan ini mematahkan asumsi bahwa fenomena tersebut murni disebabkan aktivitas vulkanik, sekaligus membuka peluang bagi pengelola wisata untuk mengemas narasi edukasi geowisata berbasis bukti ilmiah bagi pengunjung.
Artikel ini merupakan karya pengguna yang dikirim melalui platform Distrik Banten News dan telah melalui proses moderasi. Status Kontributor tidak menunjukkan keanggotaan Redaksi maupun kewenangan untuk mewakili Distrik Banten News.