Waspada! Abu Anak Krakatau Ancam Kesehatan
Jalan raya juga menjadi lebih berbahaya ketika tertutup abu. Permukaan jalan dapat menjadi licin, sementara kendaraan yang melintas justru dapat mengangkat kembali abu ke udara sehingga memperburuk kualitas udara.
CDC mengingatkan masyarakat untuk menghindari berkendara ketika hujan abu berlangsung cukup berat. Abu dapat mengganggu jarak pandang, masuk ke mesin kendaraan dan menyebabkan masalah pada sistem kendaraan. Jika memang harus berkendara, jendela kendaraan sebaiknya tetap tertutup dan masyarakat menghindari paparan abu sebanyak mungkin.
Dampak abu bahkan dapat menjangkau sektor penerbangan. Partikel abu vulkanik yang masuk ke mesin pesawat dapat menyebabkan gangguan serius. Dalam erupsi Anak Krakatau kali ini, sebaran abu telah menyebabkan gangguan besar terhadap penerbangan dan memaksa sejumlah bandara menghentikan sementara operasionalnya.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa ancaman erupsi gunung api memiliki dampak berantai. Tidak hanya masyarakat di sekitar gunung yang terdampak, tetapi juga warga di wilayah yang jauh dari pusat erupsi.
Polda Banten sendiri telah mengimbau masyarakat, terutama warga di wilayah pesisir Banten, untuk tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak erupsi Anak Krakatau.
Pemerintah juga meminta masyarakat mengikuti informasi resmi dari lembaga berwenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
Yang paling penting, masyarakat tidak perlu panik, tetapi harus disiplin menjaga keselamatan. Jika abu vulkanik mulai terlihat, kurangi aktivitas di luar rumah, gunakan pelindung pernapasan, lindungi mata, tutup sumber air dan makanan, serta pantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui kanal resmi pemerintah.
Bagi masyarakat yang mengalami batuk berat, sesak napas, iritasi mata yang parah atau keluhan kesehatan lain setelah terpapar abu vulkanik, segera menjauh dari sumber paparan dan mendapatkan pertolongan medis.