Lapas Bandanaira Dorong Peserta Magang Belajar, Berkembang, dan Produktif
Banda Naira, INFO_PAS - Program magang di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Bandanaira tidak boleh berhenti pada rutinitas kehadiran dan penyelesaian tugas. Peserta dituntut menjadikan masa magang sebagai ruang untuk belajar, mengembangkan kompetensi, sekaligus memberikan kontribusi nyata untuk Pemasyarakatan.
Pesan tersebut disampaikan dalam pengarahan sekaligus evaluasi terhadap 16 peserta Program Magang Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) Batch I Tahun 2026 yang berlangsung di Aula Lapas Bandanaira, Sabtu (5/9).
Pengarahan dipimpin Admin magang Lapas Bandanaira, Abdul Hasan, didampingi Staf Tata Usaha, La Upy Tomia. Dalam evaluasi tersebut, peserta didorong untuk tidak hanya menjadi penerima pengalaman kerja, tetapi juga menunjukkan inisiatif, kedisiplinan, kreativitas, dan tanggung jawab selama mengikuti program.
Abdul Hasan menegaskan bahwa kesempatan magang harus dimanfaatkan secara serius. Pengalaman yang diperoleh peserta selama berada di lingkungan Pemasyarakatan diharapkan mampu membentuk sikap profesional sekaligus memberikan nilai tambah bagi Lapas.
"Magang bukan hanya soal hadir dan menjalankan tugas. Peserta harus mampu belajar dari lingkungan kerja, mengembangkan kemampuan, dan memberikan kontribusi yang positif," tegas Hasan.
Ia juga menekankan pentingnya komunikasi dan kerja sama yang baik antara peserta magang dengan jajaran Lapas. Kolaborasi tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang produktif.
Senada, La Upy Tomia menilai program magang sebagai ruang kolaborasi dan pembelajaran dua arah. Kehadiran peserta tidak hanya memberikan pengalaman kerja, tetapi juga membuka peluang bagi Lapas untuk memperoleh gagasan, kreativitas, dan perspektif baru dari generasi muda.
"Peserta magang diharapkan tidak pasif. Manfaatkan kesempatan ini untuk bertanya, belajar, berinisiatif, dan menghasilkan sesuatu yang bisa memberikan dampak positif," ujarnya.
Ia menambahkan, evaluasi bukan dimaksudkan untuk mencari kekurangan peserta semata, melainkan memastikan seluruh proses magang berjalan sesuai tujuan. Karena itu, kedisiplinan, etika, kemampuan beradaptasi, serta kemauan untuk belajar menjadi aspek penting yang harus terus dibangun.
"Yang kami harapkan adalah setelah menyelesaikan program ini, mereka tidak hanya membawa sertifikat atau pengalaman kerja, tetapi juga membawa karakter, keterampilan, dan pola pikir yang lebih siap menghadapi dunia kerja," tegasnya.
Sementara itu, Kepala Lapas Bandanaira, Abdul Samad Rumuar, menegaskan bahwa pihaknya memberikan perhatian serius terhadap proses pembelajaran peserta selama berada di lingkungan Lapas.
Menurutnya, program magang harus mampu menciptakan manfaat bagi kedua belah pihak, baik bagi peserta maupun Lapas.
"Kami ingin peserta magang tidak hanya datang, bekerja, kemudian selesai. Jadikan setiap aktivitas sebagai proses belajar. Kenali lingkungan kerja, pahami tanggung jawab, bangun komunikasi, dan berani memberikan ide yang positif," ujar Samad.
Ia menambahkan, keterbatasan Lapas Bandanaira sebagai satuan kerja yang berada di wilayah kepulauan tidak boleh menjadi penghalang untuk menciptakan ruang belajar dan berinovasi.
"Justru dengan kondisi yang ada, kami ingin peserta mampu melihat peluang, berpikir kreatif, dan memberikan solusi. Hal sederhana yang dilakukan dengan serius dapat memberikan dampak bagi organisasi maupun bagi pengembangan diri peserta," tambah Samad. (Humas/LT)