Program tersebut berjalan berdampingan dengan kegiatan ketahanan pangan melalui pemanfaatan lahan untuk kebun sayuran dan cabai.
Dengan berbagai kegiatan tersebut, Desa Sindangheula berupaya membangun pola pemberdayaan masyarakat yang tidak hanya berorientasi pada kebersihan lingkungan, tetapi juga mendorong produktivitas dan kemandirian warga.
Dalam proses penilaian, tim juri tidak hanya melakukan penilaian berdasarkan administrasi dan pemaparan pemerintah desa. Tim juga turun langsung melihat sejumlah lokasi yang menjadi bagian dari program unggulan Desa Sindangheula.
Salah satu juri BBGR, Widodo, memberikan apresiasi terhadap kreativitas yang ditampilkan Desa Sindangheula.
Menurutnya, desa tersebut memiliki cukup banyak inovasi yang dapat menjadi contoh dalam menggerakkan masyarakat, mulai dari pengelolaan sampah hingga program ketahanan pangan.
"Untuk kreativitas, kita melihat Desa Sindangheula ini cukup kreatif. Mulai dari pengelolaan sampah, budidaya ikan, kebun sayuran dan cabai, kemudian desanya juga sudah masuk desa digital," ujar Widodo.
Menurut dia, keberadaan berbagai inovasi tersebut menunjukkan adanya upaya pemerintah desa untuk melibatkan masyarakat dalam pembangunan.
Sementara itu, Kepala Desa Sindangheula, Suheli, S.Kom.I., MM, menegaskan bahwa keikutsertaan dalam lomba BBGR tidak semata-mata ditujukan untuk mendapatkan predikat juara.