Pelatihan Kepemimpinan Dimulai, Sekda Banten Minta Aparatur Tak Sekadar Duduk di Kelas
Bagi Deden, kepemimpinan dalam birokrasi bukan sekadar kemampuan memberikan instruksi. Seorang pemimpin pengawas harus mampu membaca persoalan, mencari solusi, mengambil keputusan secara tepat, sekaligus menggerakkan orang-orang di lingkungan kerjanya.
Karena itu, proses pembelajaran bersama pelatih, mentor, tim penguji, narasumber, dan peserta lainnya harus dimanfaatkan untuk memperkaya perspektif. Interaksi tersebut dinilai penting agar peserta terbiasa melihat persoalan dari berbagai sudut pandang dan mampu merumuskan langkah penyelesaian yang tepat.
Deden juga menekankan bahwa aparatur pemerintahan tidak dapat bekerja secara sendiri-sendiri. Kompleksitas persoalan pelayanan publik membutuhkan kerja bersama lintas bidang, perangkat daerah, bahkan lintas pemerintah daerah.
“Pemerintah daerah itu atau aparatur itu tidak bisa bekerja sendiri, dia harus berkolaborasi dengan yang lainnya,” katanya.
Menurut dia, kemampuan berkolaborasi menjadi salah satu modal penting bagi pemimpin di lingkungan pemerintahan. Dengan kolaborasi, berbagai sumber daya dan kompetensi dapat disatukan untuk menghasilkan pelayanan publik yang lebih efektif.
Lebih jauh, Deden berharap peserta PKP mampu menjadi pemimpin perubahan di unit kerjanya masing-masing. Kepemimpinan yang dibangun melalui pelatihan harus terlihat dalam tindakan nyata setelah peserta kembali menjalankan tugas.
Ia meminta setiap peserta mampu menerjemahkan hasil pembelajaran ke dalam aksi perubahan yang memberikan manfaat bagi organisasi maupun masyarakat.
“Pastikan perubahan yang peserta lakukan membuat pelayanan lebih mudah, proses lebih cepat, anggaran lebih efisien, dan masyarakat lebih terbantu,” pesannya.