Di sisi lain, Dimyati mengingatkan bahwa tingginya antusiasme masyarakat terhadap sepak bola harus dibarengi dengan kedewasaan dalam memberikan dukungan. Fanatisme suporter, kata dia, jangan sampai berubah menjadi tindakan yang mengganggu keamanan maupun kenyamanan selama pertandingan.
“Biasanya penonton atau suporter lebih keras. Oleh karena itu, keamanan dan kenyamanan harus dijaga dengan bantuan Polri dan TNI,” ujarnya.
Menurutnya, pertandingan sepak bola seharusnya menjadi hiburan sekaligus ruang mempererat hubungan antarmasyarakat. Karena itu, semua pihak, mulai dari pemain, ofisial, panitia hingga suporter, memiliki tanggung jawab menjaga pertandingan berlangsung aman dan kondusif.
Lebih lanjut, Dimyati menyebut Dewa United sebagai salah satu klub yang memiliki posisi penting dalam perkembangan sepak bola Banten. Klub berjuluk Tangsel Warrior tersebut kini berkompetisi di level tertinggi sepak bola nasional dan diharapkan dapat terus berkembang serta menjadi kebanggaan masyarakat Banten.
Ia juga mengapresiasi dukungan Dewa United terhadap pelaksanaan Jawara Cup 1. Menurutnya, keterlibatan klub profesional dalam kompetisi di tingkat akar rumput dapat memberikan motivasi bagi para pemain muda untuk terus mengembangkan kemampuan.
Sementara itu, Ketua PSAD M. Gun Ajudan mengatakan, Jawara Cup 1 digelar sebagai bagian dari upaya mendekatkan Dewa United dengan masyarakat Banten. Menurutnya, sepak bola memiliki basis penggemar yang sangat kuat, termasuk di wilayah pedesaan.
Karena itu, PSAD ingin kehadiran Dewa United tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di pusat-pusat perkotaan, tetapi juga oleh masyarakat hingga pelosok desa.
“Semoga Dewa United semakin dikenal oleh masyarakat Banten hingga ke desa-desa,” tuturnya.