Lokakarya Awal KKN Tematik UNIGA 2026 di Desa Pamalayan, Satukan Gagasan untuk Wujudkan Program yang Berdampak
Bayongbong, Garut (12/08/2026) – Lokakarya Awal Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Garut (UNIGA) 2026 di Desa Pamalayan, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, menjadi momentum penting dalam mengawali rangkaian pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 6 Agustus 2026, pukul 13.00 WIB di Aula Desa Pamalayan tersebut menjadi ruang awal untuk memperkenalkan berbagai rencana program kerja sekaligus memetakan potensi desa yang dapat dikembangkan selama pelaksanaan KKN.
Kegiatan tersebut mempertemukan mahasiswa peserta KKN dengan unsur pemerintahan desa serta masyarakat dalam suasana yang penuh semangat kolaborasi. Kehadiran mahasiswa disambut baik oleh Kepala Desa Pamalayan, Sutisna, S.IP yang menyampaikan apresiasi atas kehadiran mahasiswa UNIGA di tengah masyarakat. Menurutnya, pelaksanaan KKN bukan sekadar agenda akademik, melainkan kesempatan untuk membangun kerja sama yang dapat memberikan dampak positif bagi kehidupan masyarakat desa. “Kami menyambut baik kedatangan mahasiswa KKN di Desa Pamalayan. Mudah-mudahan kehadiran adik-adik mahasiswa dapat memberikan manfaat dan kontribusi positif bagi masyarakat, sekaligus membantu mengembangkan berbagai potensi yang ada di desa,” ujar Sutisna dalam kegiatan tersebut.
Dalam lokakarya, Alfan Al Falaliansyah, mahasiswa Fakultas Kewirausahaan Universitas Garut sekaligus Koordinator Desa KKN Tematik UNIGA 2026, dipercaya menjadi narasumber. Ia memaparkan sejumlah rancangan program yang akan menjadi bagian dari kegiatan pengabdian mahasiswa. Paparan tersebut tidak hanya berisi daftar kegiatan, tetapi juga diarahkan untuk melihat kebutuhan masyarakat dan peluang pengembangan potensi lokal yang dimiliki Desa Pamalayan.
Beberapa bidang menjadi perhatian dalam rancangan program kerja KKN, di antaranya pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), pengembangan sektor pertanian, pemanfaatan teknologi digital, pendidikan, kepemudaan, serta pengembangan potensi budaya desa. Beragam bidang tersebut dipandang memiliki keterkaitan satu sama lain sehingga dapat dikembangkan secara terpadu. Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan mampu hadir bukan hanya sebagai pelaksana kegiatan, tetapi juga sebagai mitra masyarakat dalam menemukan gagasan dan solusi yang relevan.
Alfan menjelaskan bahwa program KKN perlu disusun berdasarkan kondisi nyata yang ditemukan di lapangan. Karena itu, lokakarya awal menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mendengar masukan dari pemerintah desa dan masyarakat sebelum program dijalankan secara lebih luas. “Kami ingin program KKN ini tidak hanya berorientasi pada kegiatan yang selesai ketika mahasiswa meninggalkan desa. Kami berharap ada program yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan memiliki peluang untuk terus dikembangkan setelah masa KKN berakhir,” kata Alfan.
Menurutnya, keberhasilan KKN tidak semata-mata diukur dari banyaknya kegiatan yang terlaksana. Hal yang lebih penting adalah sejauh mana program tersebut mampu mendorong masyarakat untuk mengenali, mengelola, dan mengembangkan potensi yang telah dimiliki. Dengan demikian, mahasiswa dapat menjadi penghubung antara gagasan akademik dengan kebutuhan praktis yang ada di lingkungan masyarakat.
Lokakarya juga menjadi forum untuk menyatukan persepsi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat. Penyamaan visi diperlukan agar setiap program yang dirancang tidak berjalan sendiri-sendiri. Melalui komunikasi dan koordinasi sejak awal, program kerja diharapkan dapat memperoleh dukungan dari berbagai pihak sekaligus menghindari kegiatan yang tidak sesuai dengan kebutuhan warga.
Potensi Desa Pamalayan menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian dalam pembahasan. Berbagai sumber daya lokal, baik dalam bidang pertanian, kewirausahaan, pendidikan, kepemudaan maupun kebudayaan, menjadi ruang yang dapat dikembangkan melalui pendekatan yang kreatif dan berkelanjutan. Mahasiswa dituntut untuk mampu melihat potensi tersebut bukan hanya sebagai sumber daya, tetapi sebagai peluang untuk menciptakan kegiatan yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.