Minggu, 11 Oktober 2026

KKN Tematik Universitas Garut Kelompok 16 Hadir di MIS Ar-Raudhotun Nur, Kampanyekan Anti-Bullying dan Bangun Cinta kepada Orang Tua

BAGIKAN:
KKN Tematik Universitas Garut Kelompok 16 Hadir di MIS Ar-Ra...
0
KKN Tematik Universitas Garut Kelompok 16 Hadir di MIS Ar-Raudhotun Nur, Kampanyekan Anti-Bullying dan Bangun Cinta kepada Orang Tua

Garut, 11 Agustus 2026   – Semangat membangun karakter generasi muda kembali hadir di lingkungan pendidikan. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Garut (UNIGA) Kelompok 16 Desa Pamalayan, Kecamatan Bayongbong, melakukan kunjungan ke MIS Ar-Raudhotun Nur dalam rangka melaksanakan salah satu program edukatif bagi siswa. Kegiatan tersebut menghadirkan empat mahasiswa, yakni Adi M Rizki dari Fakultas Teknik (FTEKNIK), Devi Nuraeni dari Fakultas Pendidikan dan Ilmu Keguruan (FPIK), Rosa Desviani Azzahra dari Fakultas Ekonomi (FEKON), serta Nisya Triani dari Fakultas Ekonomi (FEKON).

 

Kunjungan tersebut tidak sekadar menjadi agenda silaturahmi antara mahasiswa dan warga madrasah. Kehadiran mahasiswa KKN diarahkan untuk memberikan edukasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa, salah satunya melalui kampanye Anti-Bullying. Para mahasiswa mengajak siswa memahami bahwa lingkungan pendidikan harus menjadi tempat yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi setiap anak. Perundungan, baik dalam bentuk perkataan, tindakan fisik, maupun perlakuan yang dapat menyakiti perasaan orang lain, perlu dicegah bersama melalui kesadaran dan kepedulian seluruh warga madrasah.

 

Dalam penyampaiannya, mahasiswa KKN mengajak siswa untuk lebih berhati-hati dalam berucap dan bertindak. Candaan yang dianggap biasa oleh seseorang belum tentu memiliki dampak yang sama bagi orang lain. Karena itu, siswa didorong untuk membangun kebiasaan saling menghormati, tidak mengejek kekurangan teman, tidak mengucilkan, serta berani menyampaikan kepada guru apabila menemukan tindakan yang mengarah pada perundungan. Pesan tersebut menjadi semakin penting karena pembentukan karakter pada usia sekolah tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik, tetapi juga kemampuan anak dalam memahami perasaan dan menghargai keberadaan orang lain.

Namun, kegiatan tersebut menghadirkan sisi menarik ketika program memasuki bagian berikutnya. Di tengah rangkaian kampanye Anti-Bullying, mahasiswa KKN bersama seluruh siswa MIS Ar-Raudhotun Nur menggelar nonton bersama film berjudul Es Krim Terakhir dari Ayah . Pemilihan film tersebut memberikan warna berbeda dalam kegiatan edukasi. Jika kampanye Anti-Bullying sebelumnya lebih banyak mengajak siswa memahami hubungan mereka dengan teman sebaya, film tersebut membawa siswa pada ruang refleksi yang lebih personal, yakni tentang hubungan seorang anak dengan orang tua.

 

Melalui kisah yang disajikan dalam film, siswa diajak untuk melihat kembali arti kehadiran orang tua dalam kehidupan mereka. Orang tua tidak hanya menjadi sosok yang memenuhi kebutuhan anak, tetapi juga menjadi tempat pertama bagi anak untuk mendapatkan kasih sayang, perlindungan, perhatian, dan pendidikan. Momen nonton bersama tersebut kemudian menjadi media pembelajaran emosional agar siswa mampu memahami bahwa kasih sayang orang tua sering kali hadir melalui hal-hal sederhana yang terkadang tidak disadari oleh seorang anak.

 

Suasana kegiatan pun menjadi lebih reflektif. Siswa tidak hanya menikmati film sebagai hiburan, tetapi juga diajak menangkap pesan moral yang terkandung di dalamnya. Kisah tentang hubungan anak dan orang tua menjadi pintu masuk bagi mahasiswa KKN untuk mengajak siswa lebih sensitif terhadap perasaan keluarga. Mereka didorong untuk tidak mudah membentak, membantah, atau mengabaikan orang tua, serta mulai membiasakan diri mengucapkan terima kasih, meminta maaf, membantu pekerjaan di rumah, dan menunjukkan kasih sayang melalui tindakan sederhana.

 

Nisya Triani, salah seorang mahasiswa KKN Tematik Kelompok 16, menilai bahwa pendidikan karakter akan lebih kuat apabila anak memiliki fondasi kasih sayang yang baik terhadap orang tuanya. Menurutnya, hubungan tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk sikap seorang anak ketika berinteraksi dengan orang lain. “ Menaruh rasa cinta terhadap orang tua menjadi pondasi utama bagi seorang anak atau pelajar. Ketika seorang anak belajar mencintai, menghormati, dan menghargai orang tuanya, nilai tersebut akan menjadi bekal untuk menghargai orang lain di lingkungan sekolah maupun masyarakat,” ujar Nisya Triani.

 

Andra Soni Dorong Santri Al-Muhaimin Jadi Generasi Berilmu dan Berintegritas
Artikel Selanjutnya

Andra Soni Dorong Santri Al-Muhaimin Jadi Generasi Berilmu dan Berintegritas

Kontributor: KABAR AR-RAUDHOTUN NUR
Diterbitkan: 11 Agustus 2026, 19:15 WIB · Diperbarui: 12 Agustus 2026, 08:19 WIB

Berikan Opinimu

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE

Terkini

Pengabdian Guru PAUD dalam Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Konten dari Pengguna Opini Sabtu, 10 Oktober 2026 | 12:07 WIB

Mengapa AI di Kampus Tidak Harus Ditakuti, tetapi Harus Dipahami

Konten dari Pengguna Opini Kamis, 8 Oktober 2026 | 12:02 WIB

MIS Ar-Raudhotun Nur Perkuat Literasi Membaca Siswa di Perpustakaan Garut

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Rabu, 7 Oktober 2026 | 10:02 WIB

Siswa MIS Ar-Raudhotun Nur Kenal Sejarah dan Budaya Garut Lewat Kunjungan Perpustakaan

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Rabu, 7 Oktober 2026 | 09:24 WIB

Indeks Integritas Pendidikan Banten Naik, Wagub Dimyati Bidik Level Adaptif

Konten Redaksi Selasa, 6 Oktober 2026 | 19:10 WIB

Aksi Nyata GASPOL UNESA: Belajar Gradien Menggunakan Desain Rampa

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Selasa, 6 Oktober 2026 | 12:42 WIB

SDN Tapos 1 Cadasari Berbenah, Revitalisasi Telan Anggaran Rp888 Juta

Konten Redaksi Kamis, 1 Oktober 2026 | 01:18 WIB

Tinjau Sekolah Rakyat di Lebak, Andra Soni Dorong Siswa Kejar Cita-cita

Konten Redaksi Rabu, 30 September 2026 | 21:10 WIB