3. Larangan teu meunang dirempak, buyut teu meunang dirobah : menghormati wilayah larangan dan amanat leluhur yang tidak boleh diubah.
4. Gunung kaian, gawir awian, lebak caian, datar imahan, sampalan kebonan, walungan rawatan : menempatkan setiap bentang alam sesuai dengan fungsi ekologisnya.
5. Nu lain kudu dilainkeun, nu enya kudu dienyakeun : menegakkan kejujuran dengan membedakan yang salah dan yang benar.
6. Leuweung kolot kudu dijaga : hutan tua wajib dilestarikan.
7. Leuweung titipan teu meunang diruksak : hutan titipan leluhur tidak boleh dirusak.
8. Cai kudu dipiara : sumber air harus dipelihara sebagai penopang kehidupan.
9. Walungan kudu diriksa :sungai harus dirawat dan dijaga kelestariannya.
Seluruh pikukuh tersebut bukan hanya menjadi pedoman hidup Masyarakat Adat Baduy, tetapi juga merupakan amanat yang secara konsisten disampaikan kepada "Bapak Gede" dalam setiap pelaksanaan Seba. Amanat tersebut mengandung harapan agar setiap kebijakan pembangunan tetap menghormati keseimbangan alam, melindungi hutan, menjaga sumber-sumber air, memelihara tanah, serta menempatkan kepentingan generasi mendatang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan.