Ikuti Kami
Rabu, 29 Juli 2026 Versi Web

GEMA AI Mendorong Profesionalisme Guru Madrasah dalam Memanfaatkan Kecerdasan Artifisial secara Bijak

Kontributor: KABAR AR-RAUDHOTUN NUR
Rabu, 29 Juli 2026 | 20:57 WIB
Facebook
X
WhatsApp
Lainnya

Garut, 29 Juli 2026 – Transformasi digital di dunia pendidikan terus menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi para pendidik untuk meningkatkan kompetensinya. Menyadari pentingnya penguasaan teknologi, Guru Kelas VI MIS Ar-Raudhotun Nur, Insan Faisal Ibrahim, S.Pd., Gr., mengikuti kegiatan Gerakan Guru Madrasah Akrab AI (GEMA AI) yang diselenggarakan secara daring selama dua hari. Program tersebut menjadi salah satu upaya penguatan kompetensi guru madrasah dalam memanfaatkan teknologi kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), khususnya Gemini AI, sebagai pendukung pembelajaran yang inovatif, efektif, dan tetap berorientasi pada nilai-nilai pendidikan. Meskipun dilaksanakan secara online, kegiatan tersebut tidak mengurangi semangat maupun keseriusan Insan dalam mengikuti setiap sesi pelatihan yang dipandu oleh tiga narasumber dari Edu-Tech Specialist, Websis for Edu.

Selama mengikuti kegiatan, Insan aktif menyimak berbagai materi mengenai pemanfaatan Gemini AI dalam mendukung tugas profesional guru. Berbagai pembahasan yang disampaikan meliputi strategi penggunaan AI untuk membantu penyusunan perangkat pembelajaran, pengembangan media ajar yang lebih kreatif, pencarian referensi akademik, pengelolaan administrasi pendidikan, hingga pemanfaatan AI untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar di kelas. Menurutnya, pelatihan tersebut memberikan wawasan baru bahwa teknologi kecerdasan artifisial bukan sekadar tren digital, melainkan telah menjadi bagian dari perkembangan dunia pendidikan yang perlu dipahami dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab oleh setiap pendidik.

Menurut Insan, guru pada era digital tidak dapat menutup diri terhadap perkembangan teknologi. Sebaliknya, guru perlu mampu hidup berdampingan dengan kecerdasan artifisial tanpa kehilangan jati dirinya sebagai pendidik. Ia menilai masih banyak anggapan di masyarakat yang memandang AI sebagai ancaman karena dikhawatirkan mengurangi kreativitas dan orisinalitas guru. Padahal, apabila digunakan secara tepat, AI justru dapat menjadi mitra yang membantu guru bekerja lebih efektif sehingga memiliki lebih banyak waktu untuk merancang pembelajaran yang bermakna dan membangun interaksi yang lebih berkualitas dengan peserta didik. "Guru di era sekarang harus mampu hidup berdampingan dengan teknologi kecerdasan artifisial. Saya memahami bahwa masih ada yang memandang AI sebagai sesuatu yang negatif karena dianggap dapat mengurangi kreativitas guru. Namun menurut saya, AI justru menjadi alat bantu yang sangat bermanfaat apabila digunakan secara bijak. Selama mengikuti GEMA AI, saya semakin memahami bahwa Gemini AI dapat membantu guru menemukan berbagai referensi, mengembangkan ide pembelajaran, menyusun media ajar yang lebih menarik, bahkan membuka wawasan yang lebih luas melalui berbagai fitur kecerdasannya. Teknologi ini bukan untuk membuat guru menjadi bergantung, tetapi untuk memperkuat kemampuan guru dalam menghadirkan pembelajaran yang lebih inovatif dan relevan dengan perkembangan zaman," ujar Insan Faisal

Insan juga menegaskan bahwa pemanfaatan AI harus selalu dibarengi dengan etika dan tanggung jawab profesional. Menurutnya, secanggih apa pun teknologi yang tersedia, AI tidak akan pernah mampu menggantikan peran guru sebagai pendidik yang membimbing, menginspirasi, menanamkan nilai-nilai karakter, serta membangun hubungan emosional dengan peserta didik. Guru tetap menjadi teladan yang mengajarkan akhlak, empati, kepedulian, dan nilai-nilai kemanusiaan yang tidak dapat digantikan oleh mesin. Oleh karena itu, AI seharusnya diposisikan sebagai pendukung proses pembelajaran, bukan sebagai pengganti peran utama guru di dalam kelas. "Saya selalu menekankan bahwa AI memang sangat membantu pekerjaan guru, tetapi jangan sampai menggantikan posisi guru di mata peserta didik sebagai gudangnya ilmu dan sumber keteladanan. Ada etika yang harus dijaga dalam menggunakan AI. Guru tetap harus melakukan verifikasi terhadap setiap informasi yang diperoleh, mengembangkan hasilnya dengan pemikiran sendiri, serta memastikan bahwa seluruh materi yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan nilai-nilai pendidikan. AI adalah mitra belajar, bukan pengganti guru. Ketika digunakan secara cerdas dan bertanggung jawab, teknologi ini akan menjadi kekuatan besar dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di madrasah," tegas Insan.

Melalui partisipasinya dalam Program Gerakan Guru Madrasah Akrab AI (GEMA AI), Insan berharap semakin banyak guru madrasah yang memiliki keberanian untuk mempelajari dan memanfaatkan teknologi digital secara positif. Penguasaan AI diyakini akan menjadi salah satu kompetensi penting bagi pendidik dalam menghadapi perubahan zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi ruh pendidikan. Semangat belajar sepanjang hayat, keterbukaan terhadap inovasi, serta penggunaan teknologi yang beretika diharapkan mampu melahirkan guru-guru madrasah yang profesional, adaptif, dan siap mencetak generasi yang unggul, berkarakter, serta mampu bersaing di era transformasi digital.

 

Kontributor: KABAR AR-RAUDHOTUN NUR
Rabu, 29 Juli 2026 | 20:57 WIB
Artikel ini merupakan tanggung jawab kontributor dan tidak mencerminkan pandangan redaksi Distrik Banten News - Berita Banten Terkini, Terlengkap dan Terbaru Hari Ini.
Artikel Selanjutnya

Kepedulian terhadap Kesehatan Siswa Menjadi Wujud Pendidikan Berbasis Cinta di MIS Ar-Raudhotun Nur

Mode AMP — versi ringan & cepat
Versi Lengkap

Terkini

↑ Kembali ke atas
GEMA AI Mendorong Profesionalisme Guru Madrasah dalam Memanfaatkan Kecerdasan Artifisial secara Bijak

Bagikan artikel ini melalui